Sun. Jul 5th, 2020

Meski Unggul Elektabilitas, Tapi Posisi Jokowi-Ma’ruf Belum Aman

Porosberita.com, Surabaya – Meskipun elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mengungguli Prabowo-Sandi, namun posisi Jokowi-Ma’ruf belum aman lantaran belum melampaui 50 persen.

Survei yang dilakukan PolMark Indonesia menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin sebesar 40,4 persen dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 25,8 persen suara.

Survei PolMark Indonesia berlangsung pada 7 Oktober 2018 hingga 12 Februari 2019. Survei dilakukan di 73 daerah pemilihan dari seluruh Indonesia, hasil kerja sama dengan Partai Amanat Nasional (PAN).

Survei itu dilakukan di 73 daerah pemilihan (dapil) sejak Oktober 2018 sampai Februari 2019. Dari 73 dapil, sebanyak 72 dapil yang disurvei melibatkan masing-masing 440 responden. Sisanya, 1 dapil yang disurvei yakni Jawa Barat 3 melibatkan 880 responden.

Dengan demikian keseluruhan responden sebesar 32.560 orang yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 4.8 persen untuk masing-masing 72 dapil. Satu dapil lain yakni Jawa Barat 3 memiliki margin of error kurang lebih 3.4 persen dengan tingkat kepercayaan survei hingga 95 persen.

Responden yang terpilih diwawancarai dengan metode tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih secara khusus. PolMark Indonesia juga melakukan quality control (pengawasan) dengan cara mendatangi kembali (rekonfirmasi) 20 persen responden yang terpilih secara acak.

CEO sekaligus Founder PolMark Eep Saefulloh Fatah menilai posisi petahana belum benar-benar aman. Sebab, perolehannya belum dapat melampaui angka 50 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat Jokowi seakan-akan sedang ‘dihukum’ publik. Padahal, Jokowi telah ‘kampanye’ sejak menjadi Presiden 2014 silam.

“Dengan ‘kampanye’ yang lama, petahana belum melampaui 50 persen, artinya pemilih sedang menghukum yang bersangkutan. Hukuman ringan adalah belum memilih, sedangkan hukuman beratnya adalah tidak memilih,” ,” cetus Eep di Surabaya, Selasa (5/3/2019).

Elektabilitas petahana diperparah dengan jumlah 33,8 persen responden yang belum menentukan pilihannya (undecided voters).

Selain itu, dari 40,4 persen suara petahana terdapat 8,9 responden yang menyatakan pilihannya kepada Jokowi masih bisa berubah.

Eep melanjutkan, dari peta elektabilitas tersebut, ada 48 persen suara yang sesungguhnya masih bisa diperebutkan untuk pemilihan presiden 2019.

Bertolak dari kondisi tersebut, mengingatkan Eep  pada pemilihan kepala daerah DKI 2012 dan 2017 lalu. Dalam dua Pilkada DKI itu calon petahana tumbang. “Hal itu bisa saja terulang di pemilihan presiden 2019 ini,” imbuhnya.

Digambarkan Eeep, saat Pilkada DKI 2012 lalu, tren survei mengarah ke pertahana Fauzi Bowo, tapi akhirnya kemenangan malah diperoleh Jokowi-Ahok.

Hal itu terulang pada 2017, Ahok-Djarot unggul di sejumlah lembaga survei, namun kemenangan malah jatuh ke Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Lantaran itu, maka Eep mengaku tak heran kubu petahana kencang menggaungkan langkah pemenangan hingga memunculkan istilah ‘perang total’. (wan)