Sat. Sep 18th, 2021

Utang Pemerintah Capai Rp4.571,89 Triliun

Porosberita.com, Jakarta – Hingga Mei 2019, utang pemerintah hingga Mei 2019 sebesar Rp4.571,89 triliun. Demikian catatan yang disampaikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Posisi utang tersebut naik Rp402,8 triliun atau 9,66 persen dibanding periode yang sama tahun lalu Rp4.169,09 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim sejatinya penambahan utang tiap tahun terus melandai. Hingga Mei 2019, total utang yang ditarik pemerintah sepanjang tahun ini tercatat Rp159,6 triliun atau turun 10,58 persen dibanding tahun sebelumnya yakni Rp178,5 triliun.

“Kami catat pembiayaan hingga Mei kemarin malah mencatat kontraksi, tentu ini adalah hal positif,” jelas Sri Mulyani, Jumat (21/6/2019).

Sri menjelaskan tren penarikan utang terus menurun setiap tahunnya. Ia mencontoh penarikan utang pemerintah hingga Mei tahun lalu yang juga turun 7,5 persen dibanding 2017. Bahkan, tingkat penurunan utang di tahun ini jauh lebih besar dibanding tahun lalu.

Sri mengatakan, kondisi ini tak lepas dari postur anggaran, di mana pemerintah masih menargetkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tingkat 1,84 persen dari PDB di tahun ini atau lebih rendah dari tahun kemarin 1,79 persen.

Adapun penarikan utang pemerintah, juga bisa ditarik lebih kecil meski defisit APBN juga melebar dibanding tahun lalu. Defisit APBN hingga Mei tercatat 0,79 persen dari PDB, atau turun dibandingkan tahun lalu yakni 0,63 persen dari PDB.

Namun begitu, ia tak menjelaskan, mengapa penarikan utang pemerintah sepanjang tahun ini lebih kecil meski defisitnya melebar. “Kami tetap hati-hati dalam mengelola instrumen pembiayaan agar hasilnya positif bagi ekonomi,” katanya.

Berdasarkan data APBN, rasio utang pemerintah tercatat sebesar 29,72 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurutnya, utang pemerintah saat ini masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp3.776,12 triliun atau 82,88 persen dari total utang pemerintah. Sementara sisanya dalam bentuk pinjaman sebesar Rp782,54 triliun.

Utang SBN tercatat meningkat 11 persen dibanding tahun lalu sebesar Rp3.401,77 triliun, sedangkan utang pinjaman naik 1,91 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sebelumnya, pemerintah juga mencatat utang luar negeri Indonesia mencapai US$389,3 miliar atau setara Rp5.577,4 triliun (kurs Rp14.326 per dolar AS) pada akhir April 2019 kemarin.  Data Bank Indonesia (BI), utang tersebut tumbuh 8,7 persen dibandingkan dengan Maret 2019.

Pertumbuhan utang tersebut, lebih tinggi jika dibandingkan dengan maret yang hanya 7,9 persen. BI merinci besaran utang sebesar Rp5.577, 4 triliun tersebut dihimpun oleh dua pihak.

Pertama, sebesar US$189,7 miliar atau Rp2.717,7 triliun dari utang pemerintah dan bank sentral. Kedua, sebesar US$199,6 miliar atau Rp2.859,6 triliun dari utang swasta, termasuk BUMN..

BI dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Senin (17/6/2019), dikatakan bahwa kenaikan utang tersebut terjadi karena transaksi penarikan neto utang luar negeri. Kenaikan tersebut juga terjadi akibat pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Selanjutnya, BI merinci dari sisi utang luar negeri pemerintah justru cenderung melamban.  Posisi ULN pemerintah pada April 2019 tercatat sebesar186,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,4% (yoy).

Utang tersebut melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 3,6% (yoy). Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman senilai 0,6 miliar dolar AS dan penurunan kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) milik nonresiden senilai 0,4 miliar dolar AS akibat ketidakpastian di pasar keuangan global yang bersumber dari ketegangan perdagangan.

Peningkatan dialami oleh sektor swasta. Posisi ULN swasta pada akhir April 2019 tumbuh 14,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 13,0%. (nto)