Sat. Feb 22nd, 2020

MN KAHMI Desak Yudian Klarifikasi Pernyataan Soal Agama Musuh Pancasila

Sekjen MN KAHMI Manimbang Kahariady

Porosberita.com, Jakarta – Majelis Nasional Korps Alumn Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) mendesak Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi untuk mengklarifikasi pernyataannya bahwa agama sebagai musuh terbesar Pancasila.

Sekjen MN KAHMI Manimbang Kahariady menyatakan pihaknya sangat menyayangkan pernyataan  Yudian Wahyudi tersebut.  “Kami menyayangkan [ernyataan ketua BPIP itu. BPIP yang diharapkan menjadi  lembaga yang mengemban misi penting untuk pemantapan ideologi Pancasila, kok pemimpinnya malah mainsetnya merendahkan Panncasila,“ ujar Manimbang di Sekretariat MN KAHMI, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

“Untuk itu, kami juga desak agar Yudian segera mencabut pernyataannya dan nemberiksn klarifikasi komprehensif atas pernyataannya itu,” tegasnya.

Manimbang menilai kualitas dan karakter pemimpin seperti itu, akan membuat lembaga BPIP tidak efektif, bahkan berpotensi menjadi alat  kepentingan politik tertentu.  Bahkan, merendahkan ideologi Pancasila.

Lebih jauh Manimbang  mengusulkan agar keberadaan BPIP ditinjau kembali. Selain untuk efisiensi anggaran, juga untuk mencegah intepretasi sepihak atas Ideologi Pancasila yang dapat menggangu keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Apalagi pemimpinnya  ahistoris, dan tdk kapabel, berpotensi menciptakan kegaduhan baru dan memicu konflik sesama anak bangsa,” ujar Manimbang.

Sebelumnya, di media detik.com Yudian Wahyudi menyatakan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah diterima oleh mayoritas masyarakat, seperti tercermin dari dukungan dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah sejak era 1980-an. Tapi memasuki era reformasi asas-asas organisasi termasuk partai politik boleh memilih selain Pancasila, seperti Islam. Hal ini sebagai ekspresi pembalasan terhadap Orde Baru yang dianggap semena-mena.

“Dari situlah sebenarnya Pancasila sudah dibunuh secara administratif,” kata Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi kepada tim Blak-blakan detik.com.

Belakangan juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Mereka antara lain membuat Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden. Ketika manuvernya kemudian tak seperti yang diharapkan, bahkan cenderung dinafikan oleh politisi yang disokongnya mereka pun kecewa.

“Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” papar Yudian yang masih merangkap sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

Sebagai kelompok mayoritas yang sebenarnya, ia melanjutkan, NU dan Muhammadiyah mendukung Pancasila. Kedua ormas ini tak pernah memaksakan kehendak.

Konsep Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk seperti Indonesia, Yudian melanjutkan, merupakan anugerah terbesar dari Tuhan. Dari sisi sumber dan tujuan, Pancasila itu relijius karena kelima sila yang terkandung di dalamnya dapat ditemukan dengan mudah di dalam kitab suci ke enam agama yang diakui secara konstitusional di republik ini.

“Tapi untuk mewujudkannya kita butuh sekularitas bukan sekularisme. Artinya soal bagaimana aturan mainnya kita sendiri yang harus menentukannya,” kata Yudian.

Ia pribadi mengaku menerima amanah sebagai Kepala BPIP menggantikan Yudi Latief yang mengundurkan diri pada Juni 2018, sebagai bentuk jihad dalam upaya mempertahankan NKRI.

Lantas, apa saja yang akan dilakukan BPIP dalam membumikan nilai-nilai Pancasila khususnya bagi generasi milenilai? Simak selengkapnya dalam Blak-blakan bersama Prof Yudian Wahyudi, “Jihad Pertahankan NKRI” di detik.com, Rabu (12/2/2020). (wan)

Leave a Reply