Wed. May 19th, 2021

Mantan Pimpinan KPK Kritik Perppu Nomor 1 Hingga Stafsus Presiden

Laode M. Syarif

Porosberita.com, Jakarta – Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M. Syarif mengkiritik Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19.

Laode menilai Perppu penanganan virus corona tersebut menimbulkan konflik kepentingan. Seperti, dalam Pasal 27 Ayat 1 aturan tersebut memberikan imunitas terhadap pejabat yang tidak bisa dituntut secara perdata maupun pidana selama mengerjakan tugas didasarkan pada iktikad baik. Sebab berdasarkan iktikad itu pejabat bisa mendahulukan kepentingan daerah asalnya ketimbang daerah lain.

“Saya mau membantu kampung tertentu. Niat baik. Tapi saya dahulukan dulu kampung saya dibanding kampung sebelah. Saya dahulukan dulu keluarga dekat saya dibandingkan sebelah,” jelas Laode dalam diskusi secara daring, Jakarta, Jum’at (24/3/2020).

Menurutnya, aturan itu merupakan celah munculnya konflik kepentingan. Karena itu, ia menyaranka agar peraturan tersebut diubah.

“Ini sebenarnya sesuatu peraturan yang harus diubah menurut saya. Karena ini akan menimbulkan moral hazard yang sangat berbahaya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Laode juga menyindir mantan Staf Khusus Presiden Jokowi, Andi Taufan Garuda Putra dan Adamas Belva Syah Devara. Menurutnya, kedua stafsus presiden Yng telah mundur itu menjadi contoh adanya konflik of interest.

Diketahui, Taufan merupakan CEO Amartha yang menyurati camat se-Indonesia menggunakan kop surat Sekretariat Kabinet agar mau bekerja sama mendukung relawan perusahaannya untuk menanggulangi Covid-1 dalam program Kemendes PDTT.

Sedangkan Belva merupakan CEO Ruangguru, dimana perusahaannya menjadi mitra kerja program Kartu Prakerja.

“Itu contoh Conflict of Interest (CoI). Saya menghargai sekarang mengundurkan diri,” tuturnya.

Laode lantas berpesan kepada para millenial agar tidak memanfaatkan situasi sulit seperti pandemi Covid-19 ini dengan melakukan kejahatan.

“Ternyata milenial dan kolonial itu sama saja sifatnya. Kalau sudah uang, lupa segalanya. Oleh karena itu, kita berharap ketika kita dalam keadaan susah, kita hindari konflik kepentingan,” imbuhnya. (wan)