Sun. May 9th, 2021

GP Jamu Protes Satgas Covid-19 DPR Gunakan Jamu China

Porosberita.com, Jakarta – Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia atau GP Jamu keberatan masuknya jamu impor Ghina bahkan menjadi rujukan Kementerian Kesehatan untuk penanganan Covid-19. Anehnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak mengetahui masalah tersebut. 

“Saya melihat ada Satgas DPR RI mengimpor jamu dari luar secara besar. Terus terang, saya keberatan dengan hal ini. Karena yang saya tahu, formula dalam jamu impor itu yang diberikan oleh satgas DPR RI itu juga kami bisa buat,” kata Ketua GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi dalam rapat online dengan Komisi VI DPR, Senin (27/4/2020).

Menurut Ranny, jika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak mengetahui masuknya jamu impor dari China. Bahkan, BPOM justru mempertanyakan masuknya jamu China tersebut kepada GP Jamu. Sebab, salah satu bahan baku jamu impor China itu dilarang beredar di Indonesia oleh BPOM.

“Kemudian saya tanya barang itu bisa masuk izin dari siapa? Itu dari Kemenkes, masalahnya adalah dokter-dokter itu bingung bagaimana pakai obat ini, kemudian mereka tanya ke BPOM lalu BPOM tanya ke GP Jamu,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Inggrid Tania menduga jamu impor dari China tersebut dianjurkan dalam buku penanganan covid-19 milik pemerintah China. Buku itu kemudian diserahkan kepada Kementerian Kesehatan.

Inggrid menuturkan, Pemerintah China memang memasukkan jamu tradisional dalam rekomendasi sesuai prosedur tetap mereka, yaitu setiap pasien diberikan pengobatan integratif antara obat tradisional dan konvensional.

Masalahnya, produk jamu tradisional tersebut belum melalui uji klinis, baru sebatas testimoni dari pasien-pasien yang sembuh setelah diberikan jamu tradisional China.

“Saya kira Pemerintah China ada misi dagang untuk ekspansi obat tradisional ke luar, sehingga mereka membuat semacam publikasi bahwa mereka merekomendasikan obat tradisional China ke berbagai negara termasuk Indonesia,” jelasnya.

Di Indonesia sendiri, lanjut Inggrid, jamu tradisional belum melalui uji klinis untuk penyembuhan covid-19. Namun, berbagai testimoni pasien sembuh melalui pengobatan jamu tradisional cukup banyak muncul di media massa.

“Kami bersama LIPI, UGM, dan Kalbe Farma berencana uji klinik di Wisma Atlet terhadap jamu Indonesia yang diproduksi oleh Kimia Farma,” terangnya.

Karena itu, Inggrid menyayangkan masuknya jamu impor China ke RS rujukan. Sebab, setelah diteliti jamu asal China tersebut dianjurkan untuk pasien ODP dengan gejala, seperti kembung dan meriang. Padahal, di Indonesia banyak jamu untuk sakit kembung dan meriang.

“Kalau saya lihat jamu Indonesia yang formula masuk angin banyak, kenapa harus pakai ini,” tegasnya.

Menanggapinya, Anggota Komisi VI DPR sekaligus anggota Satgas Lawan Covid-19 DPR Andre Rosiade menjelaskan jamu tradisional China merupakan salah satu sumbangan dari pimpinan DPR RI yang memiliki pengalaman sembuh dari covid-19 setelah mengkonsumsi jamu tersebut.

“Karena memang obat herbal fit itu teruji. Ada salah satu pimpinan DPR dan enam keluarganya terpapar dan mereka sembuh dengan herbal fit itu, sehingga dia ber-nazar membantu pasien corona dengan memberikan obat tersebut,” katanya.

Andre mengaku dari 15 bahan jamu, 13 bahan ada di Indonesia, hanya dua yang diimpor dari China. Karena itu, Andre mengatakan niatnya hanya untuk membantu kerja pemerintah. Tidak ada unsur komersial sama sekali dan tidak menggunakan uang negara.

Meski begitu, pihaknya akan menyampaikan protes GP Jamu tersebut kepada anggota Satgas Lawan Covid-19 DPR. Pihaknya pun membuka kesempatan bagi GP Jamu jika memiliki bahan tradisional Indonesia yang dapat menyembuhkan covid-19 untuk dapat didistribusikan kepada pasien. (nto)