Thu. May 6th, 2021

KPK Kembangkan Kasus Suap Nurhadi Kearah TPPU

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron (kiri) saat menyampaikan keterangan pers. Sementara kedua tersangka kasus dugaan suap gratifikasi senilai Rp46 miliar yang selama ini menjadi buronan mengenakan rpmpi oranye Nurhadi (kiri) dan Riesky Herbiyono (kanan) di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Porosberita.com, Jakarta – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembangkan kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) tersangka suap mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrachman dan menantunya Rezky Herbiyono.

Untuk itu penyidik memeriksa kakak ipar tersangka Rezky Herbiyono bernama Yoga Dwi Hartiar. “Tadi, penyidik mengkonfirmasi dugaan adanya aliran sejumlah uang dari tersangka Rezky Herbiyono kepada saksi Yoga Dwi Hartiar,” ujar Pelaksana Tugas Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri, kepada wartawan, Selasa (9/6/2020).

Ali mengungkapkan KPK tengah mengembangkan perkara ini ke arah TPPU. Hal itu, menindaklanjuti informasi yang diterima KPK dari masyarakat mengenai pencucian uang oleh Nurhadi.

Meskipun Ali menyatakan penyidik akan fokus terhadap dugaan suap/ gratifikasi yang diperbuat oleh Nurhadi terlebih dahulu.

“Sangat memungkinkan untuk dikembangkan ke arah dugaan TPPU, sejauh dari hasil proses penyidikan saat ini ditemukan bukti permulaan yang cukup untuk menetapkannya sebagai tersangka TPPU,” ujar Ali.

Ali menambahkan, penyidik sedang melakukan analisis terhadap sejumlah barang yang telah disita seperti tiga kendaraan, sejumlah uang, dokumen serta barang bukti elektronik.

Sebelumnya Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono yang buron selama 3 bulan, dibekuk KPK di sebuah rumah di Jalan Simprug Golf 17 No 1, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2020). Nurhadi dan Rezky masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak 14 Februari 2020.

KPK menetapkan Nurhadi bersama Rezky Herbiyono (RHE), swasta atau menantunya dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto (HS) sebagai tersangka pada 16 Desember 2019.

Nurhadi dan Rezky ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar terkait pengurusan sejumlah perkara di MA.  Suap terkait pertama, perkara perdata PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) (Persero) pada 2010. Suap kedua terkait pengurusan perkara perdata sengketa saham di PT MIT. (wan)