Wed. Jun 23rd, 2021

Saat OTT KPK, Satpam PDIP Dipaksa Dua Orang Tak Dikenal Telepon Harun

Harun Masiku sampai saat ini masih Buronan KPK

Porosberita.com, Jakarta – Anggota Satuan Pengamanan (Satpam) DPP PDIP, Jakarta bernama Nurhasan mengaku didatangi dua orang lelaki tak dikenal yang memaksanya menelpon dan mengambil tas dari Harun Masiku.

Nurhasan mengaku, peristiwa itu terjadi pada 8 Januari 2020 atau saat operasi tangkap tangan (OTT) KPK “Mereka agak tinggi, agak gemuk,” kata Nurhasan saat menjadi saksi untuk terdakwa mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan melalui konferensi video dalam sidang kasus suap Komisi Pemilihan Umum, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (11/6/2020).

Wahyu didakwa menerima suap Rp 600 juta dari dua kader PDIP Harun Masiku dan Saeful Bahri. Uang itu diberikan agar Wahyu membantu Harun dipilih menjadi anggota DPR lewat pergantian antarwaktu. Saeful sudah divonis 1 tahun 8 bulan penjara. Sementara Harun masih buron hingga saat ini.

Diketahui, pada 8 Januari 2020 sektar pukul 12.55 WIB, KPK menggelar OTT terhadap Wahyu Setiawan di Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu, KPK juga menciduk mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina di Depok pada 13.44 WIB. Malam harinya, Nurhasan bertemu Harun dan setelah itu menghilang.

Nurhasan menuturkan, saat itu dirinya baru saja pulang dari persiapan Kongres PDIP di Kemayoran, Jakarta Pusat. Menjelang Magrib,  dua orang berbadan tegap mendatanginya di pos keamanan DPP PDIP, Jakarta Pusat.

Di saat yang sama, tim penindakan KPK baru saja menangkap Wahyu di Bandara Soekarno-Hatta dan sedang memburu Harun Masiku.

Ketika dua orang itu datang, lanjut Nurhasan, dirinya baru saja mengambil wudu, lalu mengisi ulang daya hapenya di pos keamanan. Dua orang mendatangi pos keamanan mencari Harun. Nurhasan sempat menanyakan identitas dan keperluan dua orang tersebut. Tapi, mereka tak menjawab. “Dia kurang bersahabat,” tutur Nurhasan.

Saat ditanya identitasnya, kedua orang ini malah langsung masuk ke pos keamanan. Mereka menanyakan apakah mengenal dan memiliki nomor Harun. Nurhasan jawab tidak kenal dan selanjutnya kedua orang memasukkan nomor Harun ke ponsel Xiaomi milik Nurhasan. “Lalu saya masuk ke pos lagi eh dia ikut masuk, tiba-tiba dia ambil HP saya yang sedang di-charge,” lanjutnya.

Lalu, dua orang itu meminta Nurhasan berbicara dengan Harun di ujung telepon melalui mode loudspeake. Tak hanya itu, dua orang ini juga mendikte apa saja yang harus dia sampaikan kepada Harun.  Salah satunya, soal perintah merendam ponsel di air. “Iya Pak, disuruh sama yang dua orang itu Pak. Dua orang itu yang nuntun saya Pak. Pokoknya ikut kata dia Pak,” ujar Nurhasan.

Melalui hubungan telepon itulah, Nurhasan dan Harun akhirnya berjanji segera bertemu di Jalan Cut Mutia, Jakarta Pusat. Nurhasan berangkat memakai sepeda motor, sementara dua pria tadi mengikutinya dari belakang menggunakan sepeda motor.

Setibanya di Cut Mutia persisnya dekat Hotel Sofyan, Nurhasan menunggu sekitar setengah jam, lalu sebuah mobil datang. Nurhasan kemudian menerima tas laptop dari seseorang (Harun) yang duduk di bangku penumpang. Selanjutnya, Harun memberikan sebuah tas laptop kepada Nurhasan.

Sementara, kedua orang tak dikenal itu hanya memantau dari kejauhan. Setelah menerima tasnya, mobil ditumpangi Harun langsung pergi.  Nurhasan pun langsung pergi bermaksud kembali ke Pos Keamanan DPP PDIP, namun kedua orang yang memantaunya dari jauh itupun menghampirinya dan mengambil tas dari tangan Nurhasan..

Setelah itu, mereka semua berpisah dan Nurhasan kembali ke pos keamanan di DPP PDIP, Jakarta Pusat. Sejak itulah, Harun menghilang dan hingga saat ini masih menjadi buronan KPK.  (wan)