Thu. May 6th, 2021

KAMI, Indonesia Menggugat

Dr. TB Massa Djafar

Oleh : Dr. TB. Massa Djafar

(Akademisi dan aktivis politik)

Porosberita.com, Jakarta – Pledoi bung Karno. Bukan sekedar sebuah pembelaan atas tuduhan makar oleh pemerintahan kolonial Belanda. Tapi jauh lebih dalam. Tokoh pergerakan nasional ini, menggugat ketidakadilan atas penindasan kolonial asing terhadap suatu bangsa.

Pledoi bung Karno di pengadilan pemerintahan kolonial, dapat dimaknai sebuah pernyataan politik. Sebuah ekspresi perlawanan terhadap “mesin kekuasaan” mesin penindas. Mesin penjarah terhadap kekayaan alam Indonesia.

Mesin politik primitif itu, bekerja sangat sempurna dengan memainkan  instrumen kekuasaan, kekuatan ekonomi dan Laras senjata  hingga mampu ia bertahan 3,5 abad lamanya.

Proklamasi kemerdekaan RI 75 tahun yang dibacakan oleh Bung Karno, adalah anti tesis. Klimaks  Indonesia menggugat. Sebuah perlawanan rakyat, perlawanan kaum pribumi terhadap penjajahan asing.  Semangat itu mengendap dalam setiap sanubari anak bangsa.

Perjuangan founding fathers, belum selesai, masih menyisakan pekerjaan rumah. Kolonial memang  telah pergi, namun ia mewarisi ketimpangan struktur sosial ekonomi, kultur politik feodal dan mesin kekuasaan.

Karena itu, warisan masalah dan mesin kekuasaan kolonial gaya baru itu dirawat, kemudian dijelmakan apa yang disebut oligarki politik atau kepolitikan oligarki. Pemilik kuasa dan sumber ekonomi pada segelintir manusia yang merampas hak- hak ekonomi dan politik rakyat.

Secara subtansial, potret tersebut, dari rezim ke rejim tak berubah. Berganti kulit saja. Kini hasil kerjanya semaakin sempurna.

Kini tahun ke 75, Indonesia memperingati kemerdekaannya. Tapi esensinya dan semangatnya tetap sama, revolusi belum selesai. Dulu mengusir penjaahan kolonial, kini menggugat para pewaris kolonial. Meskipun ini, perjuangan yang amat sulit, karena “menghadapi bangsamu sendiri” pesan Sukarno.

Harapan rakyat kepada Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI),  hadir sebagai penggugat. Meneruskan pleidoi bung Karno dan perjuangan founding Fathers yang belum selesai. ()