Sun. May 9th, 2021

Aktivis Anti Rasisme Bentrok Dengan Pendukung Trump

Porosberita.com, Jakarta – Ratusan pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlibat bentrokan dengan para aktivis anti rasisme di Portland, Oregon.

AFP melaporkan sejumlah pendukung Trump membawa senjata. Massa Trump merupakan kelompok militan bersenjata dari kelompok ekstremis sayap kanan.

Sebelum memasuki Portland, sejumlah pendukung bergerak menuju gedung DPR di Salem terlebih dahulu.

Saat sedang berkumpul, rombongan pendukung Trump bertemu puluhan aktivis anti-rasisme. Bentrokan pun tak terhindarkan. Tak lama kemudian belasan polisi datang untuk mengendalikan situasi.

Polisi menahan dua orang pendukung Trump karena diduga memukul demonstran.

Adapun ketegangan di daerah Portland meningkat pada 29 Agustus ketika Aaron Danielson (39), seorang pendukung kelompok sayap kanan Patriot Prayer, ditembak mati.

Peristiwa tersebut terjadi sesudah Danielson berpartisipasi dalam iring-iringan mobil pro-Trump dan meninggalkan pawai untuk pergi ke Portland bersama peserta lainnya.

Danielson diketahui ditembak oleh seorang pria berusia 48 tahun bernama Michael Reinoehl, yang mengaku sebagai “anti-fasis” di media sosial.

Michael kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Dia ditembak mati lima hari kemudian oleh polisi yang mencarinya karena diduga berusaha melarikan diri dari kejaran aparat.

Pada hari Senin (7/9) saat hari libur Hari Buruh di AS, penyelenggara pawai menekankan rute iring-iringan mobil mereka tidak akan mendekati Portland untuk alasan keamanan.

Mereka melakukan iring-iringan dengan 300 mobil yang sebagian besar truk pikap besar. Ratusan bendera Amerika dikibarkan di atas iring-iringan mobil, juga spanduk yang menyerukan pemilihan kembali Trump pada 3 November.

Ada juga gambar Trump dijadikan sebagai Rambo dengan senapan mesin di tangan yang kadang-kadang muncul di spanduk.

Sebagai informasi, Trump pernah menyebut Oregon dikepung para preman. Di akun twitter pribadinya, dia bahkan pernah menyindir Wali Kota Portland, Ted Wheller.

“Portland tidak akan pernah pulih dengan kebodohan wali kotanya. Dia (Wheeler) ingin menyalahkan saya dan Pemerintah Federal karena terlibat, tapi dia belum melihat apapun. Kami hanya berada di sana dengan sekelompok kecil (orang) untuk membela Gedung Pengadilan AS, karena dia tidak bisa melakukannya,” cuit Trump

(CNN Indonesia)