Thu. Jun 24th, 2021

Habib Rizieq Siap Rekonsiliasi Dengan Pemerintah

Habib Rizieq

Porosberita.com, Jakarta – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab membuka lebar-lebar pintu rekonsiliasi dengan pemerintahan Joko Widodo. Syaratnya, pemerintah menghentikan segala bentuk kriminalisasi dan membebaskan ulama dan aktivis yang ditahan.

Habib Rizieq mengaku, tawaran soal rekonsiliasi dengan pemerintah itu sudah ada sejak Pilkada DKI 2017 lalu dan hingga kini masih berlaku. Namun, sebelum rekonsiliasi, harus dialog antara ulama dengan pemerintah.

“Ini ada yang teriak rekonsiliasi-rekonsiliasi, mana bisa rekonsiliasi kalau pintu dialog tidak dibuka. Buka dulu dialog baru rekonsiliasi. Tidak ada rekonsiliasi tanpa buka dialog,” kata Habib Rizieq dikutip dari Front TV, Kamis (12/11/2020).

Menurutnya, dialog antara ulama dan pemerintah ini penting untuk menjernihkan banyak persoalan. Melalui dialog kedua belah pihak bisa menyampaikan argumentasi dan pendapat masing-masing demi kebaikan bersama.

“Sudah kita buka dari tahun 2017. tapi apa yang kita terima, bukan pintu dialog yang kita terima, bukan rekonsiliasi yang dilaksanakan, tapi yang kita terima kriminalisasi ulama,” ungkapnya.

Namun, Habib Rizieq masih tetap membuka pintu dialog dengan pemerintah dengan syarat pemerintah setop kriminalisasi ulama maupun para aktivis. Untuk itu, pemerintah segera membebaskan para ulama, aktivis dan tokoh oposisi yang ditahan.

“Masih banyak ulama-ulama kita yang menderita di penjara, bebaskan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir yang sudah sepuh, bebaskan Habib Bahar bin Smith yang dizalimi, bebaskan Doktor Syahganda Nainggolan, bebaskan Bapak Anton Permana, Bapak Jumhur Hidayat, bebaskan dulu mereka,” tegas Habib Rizieq.

“Bebaskan dulu para buruh, bebaskan mahasiswa, bebaskan para pendemo, bebaskan para pelajar, yang sampai sekarang masih memenuhi ruang-ruang tahanan, bebaskan dulu mereka, tunjukkan niat baik,” imbuhnya.

Habib Rizieq menyatakan, jika pemerintah menghentikan kriminalisasi dan membebaskan ulama dan para aktivis yang ditahan, maka ia siap duduk bersama pemerintah kapan dan di mana pun pemerintah inginkan.

“Kalau ada niat baik kita sambut. Ke depan ayo sama-sama dialog, insya Allah. Tapi dialog mesti punya syarat, soal nanti pemerintah inginnya apa dari umat, sampaikan, apa yang dimau pemerintah. Dari para habaib sampaikan, kami mau dengar. Anda mau ngomong sejam, 3 jam, 12 jam, kita dengar, tapi setelah anda bicara dengar juga kami bicara,” jelasnya.

Habib Rizieq pun menyatakan bahwa para ulama dan habaib ini merupakan penyambung lidah rakyat. Sebab, masyarakat selalu melaporkan apa yang dialaminya kepada kiai dan ulama. Semua keluhan dan saran masyarakat kepada pemerintah bisa disampaikan ulama dan dalam forum dialog.

“Itu yang namanya dialog. Baru setelah dialog ini terbuka baru ada namanya rekonsiliasi, mana ada rekonsiliasi tanpa ada dialog?” tandasnya. (wan)