Thu. Feb 2nd, 2023

Menuju Ternate Bangkit

Yusuf Hasani

Oleh : Yusuf Hasani

Dosen Fisip Universitas Jakarta

Porosberita.com, Jakarta – Model pengisian jabatan dalam negara demokrasi modern umumnya melalui pemilihan umum (pemilu). Pemilu dinilai sebagai cara yang memiliki keadaban menjawantahkan hak-hak politik setiap warga negara agar terjamin hak warga negara dalam pelaksanaan demokrasi.

Ketentuan Undang-undang mensyaratkan pemilu berasaskan langsung, umum, bebas dan rahasaia, serta jujur dan adil. Undang –undang juga mengatur fungsi Badan Pengawas Pemilu, guna menjamin proses pelaksanaan pemilu berjalan secara tertib dan aman. Hak kewargaan itu, diperoleh dari konstitusi bukan dari penguasa.

Sementara demokrasi hanyalah instrumen atau alat mewujudkan kesejahteraan rakyat. Itu berarti pemilu adalah cara mewujudkan hak warga negara secara beradab, tidak boleh ada kecurangan, intimidasi, paksaan dan ancaman kepada seseorang dalam penggunaan hak daulatnya. Kedaulatan rakyat melekat pada pribadi setiap warga negara, tidak untuk dialihkan.

Pada titik ini, peran etika politik menjadi faktor penentu terhadap kualitas demokrasi dalam pelaksanaan pilkada Kota Ternate, selain profesionalitas Komisi Pemilihan Umum, maka konsistensi pada aturan adalah jawaban terhadap problem – problem yang muncul dalam pelaksanaan pilkada. Masyarakat Kota Ternate telah mengikuti dan mengetahui serta menilai materi kampanye, debat, program kerja serta visi dan misi pasangan calon. Kemampuan dalam menguasai masalah dan cara menyelesaikan masalah termasuk kepribadian pasangan calon, akan menjadi pertimbangan pemilih menentukan pilihan.

Publik sudah dapat menilai pasangan calon yang layak untuk dipilih, karena program dan visi misi sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemilih (voters) serta diyakini pasangan calon memiliki kemampuan melakukan perubahan dan perbaikan di negeri beradat ini.

Adapun kewajiban pemimpin terpilih adalah menjalankan peraturan perundang-undangan secara lurus dan benar, melayani masyarakat yang telah memilih dengan cara mengangkat harkat dan martabat rakyat melalui programprogram yang menyentuh kebutuhan mendasar warga, bangun kebersamaan untuk mewujudkan mimpi bersama yakni kebaikan untuk semua, meminjam slogan Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan, maju kotanya, bahagia warganya. Berilah yang terbaik untuk rakyat

Pemilih kota Ternate dapat dibagi dalam dua kategori yakni, pemilih rasional dan pemilih kultural (baca masyarakat adat). Kedua basis pemilih ini memiliki latar belakang kultural keagamaan yang sama, yakni Islam. Itu berarti pengetahuan dan nilai –nilai Islam yang melekat pada pasangan calon merupakan cermin dari kehendak mayoritas pemilih, khususnya basis rasional dan kultural. Dengan kata lain, dibutuhkan pemimpin yang memiliki basis keagamaan yang kuat, guna menghadirkan kembali jati diri negeri ini sebagai negeri beradat.

Oleh karena itu, pada kepemimpinaan terpilih mendatang hendaknya menunjukkan sesuatu yang beda, artinya ada harapan untuk mewujudkan perubahan dan perbaikan, itulah yang disebut dengan “Ternate bangkit”. Kebangkitan yang dimaksud adalah membangun keadaban, sebagaimana falsafah adat Ternate, yakni adat matoto agama, agama matoto kitabullah. Sesungguhnya filosofi pembangunan diletakkan dalam konteks ini,  ika tidak, maka Ternate akan kehilangan indentitas (lost Idintity).

Demikian pula, pembangunan fisik hendaknya menjamin situs-situs sejarah yang ada, karena dari sejarahlah generasi yang lahir dizaman kemudian, memperoleh banyak pelajaran. Saatnya hadirkan wajah Kota Ternate dengan keperibadian keternateannya.

Menyadari pasangan calon bukanlah manusia sekelas para Nabi dan Rasul, bukan pula setingkat para sahabat Nabi dan kaum sufi, tapi manusia biasa sebagaimana umumnya hamba Allah yang memiliki keterbatasan dan kelebihan. Akan tetapi, untuk mengembalikan jati diri dan menjawab problem daerah, setidaknya dibutuhkan persyaratan pemimpin yang dapat mencontohi sifat-sifat Nabi, yakni Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathona. Dari empat sifat ini menjadikan Nabi Muhammad sebagai figur tauladan bagi umat manusia. Keempat sifat Nabi ini yang memandu seorang pemimpin dalam tugasnya, sekaligus memberi kepercayaan kepada rakyat bahwa sang pemimpin tetap berada di jalan yang benar, artinya jika diberi kepercayaan atau amanah tidak hiyanat, yang diucapkan sama dengan yang dilaksanakan, bila berjanji segera ditunaikan, senantiasa memberi nasehat-nasehat agama, memilki ahlak terpuji, santun-rendah hati dan arif dalam menyelesaikan setiap masalah, serta penggunaan bahasa yang mudah difahami, ucapannya dapat dipercaya.

Sejatinya setiap pemimpin memiliki syarat seperti tersebut di atas, memudahkan sang pemimpin menemukan cara efektif membangun kepercayaan dan optimisme warga berpartisipasi dalam proses pembangunan, maka dalam pelaksanaan pilkada kota Ternate, persyaratan yang dikehendaki dan akan menjadi pertimbangan pemilih adalah tingkat pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni dari pasangan calon, selain latar belakang pendidikan.

Bila dianalisis perubahan perilaku pemilih, beberapa fariabel dapat dipakai sebagai faktor penjelas terhadap pilihan pemilih. Diantaranya, isu perubahan, ketersediaan lapangan kerja, pendidikan dan kesehatan serta infrastruktur di Pulau Hiri , Moti dan Batang Dua, sarana olahraga yang memadai, harga yang terjangkau, selain mesin partai koalisi, peran relawan serta strategi tim pemenangan dan latar belakang keluarga calon.

Isu-isu tersebut di atas, menyentuh problem dasar masyarakat. Ambil contoh pak Yamin Tawari, baik isteri dan keempat anak dan menantunya berprofesi sebagai dokter, bahkan tiga diantara dokter ahli.

Demikian pula, pak Abdullah Taher, isterinya seorang birokrat karier, cukup lama dipercaya dalam bidang keuangan di Provinsi Maluku Utara. Fakta ini menunjukkan kepada publik, bahwa urusan dunia untuk Yamin dan Abdullah sudah selesai, berarti keduanya hanya fokus pada pengabdian, bila saatnya amanah diterima.

Pasangan ini memang beda, karena keduanya dapat menjadi imam sekaligus hotib dan ide mengembalikan jatidiri kota Ternate dengan tagline “Yamin ada Ternate bangkit” telah memberi suasana baru ditengah masyarakat. Seting politik Yamin – Abdullah, nampaknya menjadi perhatian pemilih rasional maupun kultural, lihat perubahan prilaku pemilih dibuktikan dengan mengalir dukungan dari berbagai elemen masyarakat kepada pasangan ini.

Perlu diingat bahwa nomor urut angka empat (Ternate, raha) adalah kosa kata yang sering digunakan dalam percakapan publik, sebut saja gam raha, fala raha, kie raha, tau raha, anasir raha dan seterusnya. Boleh jadi, ini pertanda baik atau empat adalah angka keberuntungan, angka yang membawa keberkahan bagi masyarakat.

Oleh karena itu, bersegeralah mendatangi tempat pemungutan suara atau TPS-TPS, ketika tiba tanggal 9 Desember 2020, Pastikan memilih pemimpin yang tepat. Bismillah, Yamin Ada, Ternate Bangkit. (*)