Sat. Jul 20th, 2024

Rezim Netanyahu Berakhir Ditangan Oposisi

Netanyahu

Porosberita.com, Jakarta – Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, dan partainya, Yesh Atid, mengklaim berhasil membentuk koalisi pemerintahan baru untuk mengakhiri kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu selama 12 tahun terakhir.

Lapid mengaku berhasil membujuk sejumlah partai dari seluruh spektrum politik, mulai dari sayap kiri, Meretz, partai Yamina berhaluan kanan, hingga partai konservatif Islam, Raam, bergabung dalam koalisi pemerintahannya.

“Saya berhasil,” kata Lapid yang merupakan eks presenter berita televisi melalui akun Facebooknya pada Rabu (2/6/2021) malam.

“Saya berjanji bahwa pemerintah ini akan bekerja untuk melayani semua warga Israel, baik mereka yang memilih kami atau pun mereka yang tidak,” ujarnya seperti dikutip AFP.

Jika pembentukan koalisi Lapid tersebut dikonfirmasi badan legislatif Knesset, parlemen Israel, ini akan mengakhiri pemerintahan Netanyahu, perdana menteri Israel dengan masa jabatan paling panjang dalam sejarah.

Kepemimpinan Netanyahu tengah berada di ujung tanduk setelah koalisi partainya, Likud, kembali gagal membentuk kabinet pemerintahan meski meraup mayoritas suara dalam pemilihan umum pada Maret lalu.

Akibat kegagalan itu, sekitar Mei lalu, Presiden Israel Reuven Rivlin memberi mandat pemenang kedua pemilu, Lapid dan partainya, untuk membentuk koalisi kabinet baru.

Lapid wajib mendirikan koalisi setidaknya terdiri dari 61 anggota di parlemen hingga tenggat waktu Rabu (2/6/2021).

Sejauh ini, Lapid berhasil membujuk setidaknya delapan partai yakni Partai New Hope yang dipimpin eks sekutu Netanyahu, Gideon Saar, partai nasionalis sekuler sayap kanan Yisrael Beitenu pimpinan Avigdor Lieberman, Partai Buruh, Maretz, Partai Biru dan Putih milik menhan Israel, Benny Gantz, hingga Yamina yang dipimpin Naftali Bennett.

Untuk pertama kalinya, partai konservatif Islam, Raam, yang diketuai Mansour Abbas, juga mengumumkan bergabung dengan koalisi Lapid. Selama ini, partai Islam Arab-Israel tidak pernah bergabung dengan koalisi pemerintahan.

Lapid mengaku harus melalui berbagai negosiasi alot untuk membujuk partai-partai itu bergabung dengan koalisinya. Dalam negosiasinya, Lapid bahkan telah menawarkan berbagi kekuasaan dan mengizinkan Bennett berkuasa sebagai PM selama satu periode yang nantinya akan digilir.

Jika koalisi Lapid disetujui parlemen, Bennett, miliarder berusia 49 tahun, akan menjabat sebagai perdana menteri pada tahun pertama pemerintahan baru terbentuk sebelum diserahkan ke Lapid dalam dua tahun.

Kini, Lapid harus memberitahu Presiden Rivlin terkait pembentukan koalisi baru. Dalam sepekan ke depan, parlemen Israel akan mengonfirmasi pembentukan koalisi Lapid.

Sampai sebelum konfirmasi parlemen keluar, PM Netanyahu masih bisa melakukan sejumlah upaya untuk mempertahankan pemerintahan.

Israel pun terancam harus menggelar pemilu lagi untuk kelima kalinya dalam dua tahun terakhir jika terjadi pembelotan dalam koalisi Lapid pada menit-menit terakhir konfirmasi parlemen. (CNN Indonesia/nto)

About Author