Menkeu Sebut Pelemahan Rupiah Positif Untuk APBN

94
Sri Mulyani

Porosberita.com, Jakarta – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengakui pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mempengaruhi biaya utang pemerintah. Karena itu, pemerintah akan menjaga defisit lebih rendah.

Demikian dikatakan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menanggapi penurunan nilai rupiah yang terjadi saat ini. Hal itu disampaikan Sri di Gedung DPR, Jakarta, Senin (10/92018). Diawal, Sri dengan sikap optimis menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tak pengaruhi Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Bahkan, pelemahan mata uang Garuda itu justru berdampak positif.

Menurutnya, penurunan nilai rupiah cenderung berpengaruh positif terhadap APBN, terbukti setiap pelemahan Rp100 per dolar AS cenderung memberikan peningkatan terhadap penerimaan maupun belanja negara.

Hal itu didasarkan pada data primary balance per Agustus 2018 yang mampu surplus Rp11,5 triliun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mengalami defisit Rp84 triliun.

“Dengan postur APBN 2018, Rp100 dari pelemahan rupiah kita terhadap dolar memengaruhi kenaikan penerimaan kita sebesar Rp4,7 triliun dan belanja juga naik Rp3,1 triliun. Tapi, kenaikan penerimaan lebih tinggi dari belanja sehingga total balance-nya adalah positif Rp1,6 triliun per Rp100,” jelas Sri Mulyani

Menurutnya, pendapatan negara dari sisi perpajakan bahkan hingga Agustus 2018 tumbuh melonjak hingga mencapai 16,5 persen. Sementara itu, pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya tumbuh 9,5 persen. Penerimaan Negara Bukan Pajak juga tumbuh 24,3 persen dibanding tahun sebelumnya 20,2 persen.

Sedangkan, dari sisi belanja negara, akselerasinya juga mengalami pertumbuhan 8,8 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang tumbuh 5,6 persen.

Karena itu, lanjut Sri, APBN kita dalam situasi sekarang cukup baik. Secara keseluruhan posisi 31 Agustus, primary balance masih surplus Rp11,5 triliun. “Tahun lalu, bulan Agustus primary balance defisit Rp84 triliun,” imbuhnya.

“Pendapatan naik Rp4,7 triliun tapi belanja kita naiknya Rp3,1 triliun. Sebetulnya kami tidak mau gunakan untung rugi. APBN kita enggak kelola untung rugi. Jadi kalau APBN-nya sehat kami bisa gunakan jaga ekonomi lebih baik lagi karena sesuai fungsinya alokasi, stabilisasi, dan distribusi,” kata Sri.

Namun akhirnya Sri mengakui bahwa pelemahan nilia tukar rupiah tersebut memberikan sisi negatif terhadap biaya utang pemerintah. Karena itu, dalam postur RAPBN 2019 dikatakannya pemerintah akan menjaga defisit lebih rendah, sehingga utang dapat diminimalisasi.

“Yang meningkat belanja bunga utang, terutama dari luar negeri yang SPN meningkat, maka ongkos berutang akan lebih tinggi. Maka dengan tren suku bunga makin mahal kita harus semakin hati-hati. Maka di 2019 (APBN) kita jaga rendah defisitnya,” akunya. (nto)