Bom di Surabaya Dijuluki “The Mother of Satan”

133

Porosberita.com, Jakarta – Para pelaku rentetan aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo menggunakan bom pipa yang dijuluki the mother of satan atau ibu daripada setan. Hal itu diungkapkan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian saat mengungkap jenis bom yang digunakan para pelaku teror tersebut.

Menurut Tito, meskipun bom yang digunakan bentuknya bermacam, tapi jenisnya sama, yakni bom pipa. “Bentuknya macam-macam, ada yang ditumpuk, ada yang ditambah jumlahnya, ada lagi yang ditambahkan bensin, seperti dalam kasus di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jalan Arjuno,” jelas Tito kepada wartawan di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (14/5/2018).

Lebih lanjut Tito mengungkapkan bahwa penemuan sementara dari Puslabfor, material bahan peledaknya adalah TATP (triacetone triperoxide). Menurutnya, bahan ini termasuk jenis yang memiliki daya ledak tinggi (high explosive) mudah diperoleh dan sangat dikenal di kelompok ISIS, terutama di Irak dan Suriah.

Dijelaskan Tito, bom high explosive itu jumlahnya tidak harus besar. Tapi, karena memiliki perubahan dari padat menjadi gas yang sangat cepat, sehingga bisa menimbulkan efek yang besar. Bahkan, saking berbahayanya, bom ini disebut the mother of satan atau ibu daripada setan.

“Jenis bom ini daya ledaknya tinggi tapi sangat sensitif. Kalau bahan bahan peledak high explosive lain seperti TNT, C-4 itu harus diledakan dengan detonator. Tapi, ledakan di sini hanya dengan guncangan atau panas saja bisa meledak,” terang Tito.

Seperti diberitakan, beberapa hari terakhir terjadi rentetan aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo. Berikut kejadiannya :

Pada Minggu (13/5/2018) terjadi serangan bom pada tiga gereja di Surabaya.

  1. Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya 01, Surabaya diserang pada 06.30 WIB. Pelakunya diketahui berboncengan mengendarai sepeda motor yang masuk ke dalam halaman gereja dan meledakkan diri. Pelakunya bersaudara anak dari Dita Oepriarto (48) berinisial YF (18) dan FA (16).

Dalam peristiwa ini ada tujuh korban jiwa, terdiri dari dua pelaku dan lima warga.

  1. Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya beralamat di Jalan Diponegoro, Surabaya diserang pada pukul 07.15 WIB. Pelakunya adalah istri Dita bernama Puji Kuswati (43). Saat kejadian, Puji bersama dua anaknya berinisial FS (12) dan FR (9) diantar sang suami ke lokasi menggunakan mobil Toyota Avanza. Selanjutnya, Puji dan kedua anaknya masuk ke halaman gereja dan meledakkan diri.

Dalam kejadian ini, tidak ada warga yang menjadi korban kecuali Puji dan dua anaknya tersebut.

  1. Gereja Pantekosta Pusat Surabaya beralamat di Jalan Arjuna, Surabaya diserang pada pukul 07.53 WIB. Pelakunya adalah Dita sendiri dengan cara menabrakkan mobilnya ke gereja dan meledakkan bomnya.

Dalam kejadian ini, selain pelaku ada tujuh warga menjadi korban jiwa

Dalam perkembangan, dari ketiga lokasi peledakan bom tersebut ada 18 korban jiwa. Mereka yang menjadi korban terdiri dari 12 orang warga dan enam pelaku.

  1. Masih pada Minggu (13/5/2018) pukul 21.20 WIB, polisi menggeldah tiga lokasi di Sidoarjo di Rusunawa Wonocolo, di Perumahan Puri Maharani, dan di Dusung Jedong Kecamatan Kota untuk menindak terduga teroris.

Di Rusunawa Wonocolo, polisi menemukan satu keluarga terduga teroris terdiri enam orang. Namun,  tiga orang tewas dalam operasi itu termasuk Anton, yang diketahui sebagai anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

  1. Bom Polrestabes Surabaya di Jalan Sikatan, kejadian ini terjadi pada Senin (14/5/2018) sekitar pukul 08.15 WIB. Pelakunya juga satu keluarga, terdiri atas Tri Murtiono (50), istrinya bernama Tri Ernawati (43), dan ketiga anaknya bernama Tri Murtiono, Tri Ernawati dan seorang berinisial A. Satu keluarga itu tewas dalam kejadian, kecuali A yang terpental dan selamat. Sedangkan empat polisi dan enam warga lainnya menmgalami luka-luka.
  2. Pada Senin (14/5/2018) pukul 07.30 WIB pasukan Densus 88 Antiteror mengepung Perum Puri Maharani, Blok A4 Nomor 11, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Dfalam operasi itu, seorang terduga teroris bernama Budi Satrio (48) tewas.

Tak lema berselang, pasukan Densus 88  kembali bergerak ke sebuah rumah kontrakan di Jedong, RT 1 RW 2, Kelurahan Urang Agung, Kecamatan Kota, Sidoarjo. Dalam operasi ini, polisi mengamankan empat pria bernama Agus Widodo (35) dan Ilham. Selain itu, polisi juga menyita enam bom rakitan. (rud)