GPMI Kutuk Aksi Teroris di Surabaya, Umat Islam Diimbau Tenang

117
Sekjen PB GPMI, Carum Widodo

Porosberita.com, Jakarta – Pengurus Besar (PB) Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) menyatakan kecamanan dan mengutuk keras aksi teroris yang meledakkan bom di tiga geraja di Surabaya. Dalam peristiwa pada Minggu (13/5/2018) pagi itu, sebanyak delapan korban jiwa dan 38 lainnya menderita luka-luka.

“Apapun bentuk kekerasan yang dilakukan tidak dibenarkan dalam Islam. Apalagi jika sampai mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka. Tindakan itu sungguh tidak manusiawi dan kami mengecam serta mengutuk keras tindakan tidak kekerasan di tiga gereja di Surabaya itu,” tandas Sekretaris Jendral (Sekjen) PB GPMI, Carum Widodo didampingi Ketua DPW GPMI DKI, Yunasdi dan Ketua PC GPMI Jakarta Timur Ridwan Umar di Jakarta, Minggu (13/5/2018).

Ketua DPW GPMI DKI, Yunasdi

Atas peristiwa itu, lanjut Carum, maka GPMI juga menyampaikan turut berduka cita atas meninggalkan seluruh korban dalam peristiwa tersebut. “Kami sampaikan pula duka cita yang sedalam-dalamnya untuk seluruh korban,” imbuh Carum.

Selain itu, Carum juga mengimbau kepada seluruh Umat Islam agar tetap tenang dan tidak terpancing dengan kabar atau informasi yang mungkin saja disebarkan pihak tidak bertanggungjawab dengan tujuan memperkeruh suasana. Untuk itu, Umat Islam tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan serta menyerahkan penuntasan kasusnya kepada pihak yang berwajib.

Ketua PC GPMI Jakarta Timur, Ridwan Umar

“Kami juga mengimbau kepada seluruh anggota atau kader GPMI serta umumnya Umat Islam untuk tetap tenang dan waspada agar tidak mudah terpancing dengan informasi atau berita yang bisa membuat suasana tidak kondusif. Biarlah pihak kepolisian bekerja mengusut siapa pelaku dan dalang dibalik semua ini,” pungkas Carum.

Seperti diketahui, Minggu (13/5/2018) pagi telah terjadi ledakan bom di Surabaya, Jawa Timur. Pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur menyebutkan sebanyak delapan orang tewas dan 38 orang lain mengalami luka-luka.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera menjelaskan korban jiwa sebanyak empat orang di Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel utara, dua orang sekitar Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, dan dua orang lainnya di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Sawahan di Jalan Arjuno, Surabaya.

“Saat ini, jumlah korban meninggal ada delapan orang, selain itu ada 38 orang dibawah ke rumah sakit, termasuk anggota polisi,” terangnya.

Menurutnyam, sampai saat ini, pihaknya masih terus melakukan identifikasi, dan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta melakukan serangkaian tindakan kepolisian lain.

Untuk diketahui, ledakan yang diduga berasal dari bom bunuh diri terjadi di tiga tempat saat jemaat di gereja melakukan ibadah sekitar pukul 07.00 WIB.

Frans menuturkan ledakan bom ditiga tempat itu diduga dilakukan oleh pelaku yang menyamar menjadi jemaat gereja, kemudian meledakkan dirinya sendiri hingga mengenai sejumlah korban.

“Jadi, pelaku pura-pura ingin masuk gereja, tapi kenyataannya mereka melakukan (meledakkan bom) seperti itu,” kata Frans.

Sebelumnya, sebanyak 5 polisi dan seorang narapidana teroris meninggal di Rutan Mako Brimobn, Kelapa dua, Depok, Jawa Barat.

Pada Kamis (10/5/2018) kerusuhan yang berujung penyanderaan polisi oleh tahanan kasus terorisme di Mako Brimob telah berakhir. Seluruh Narapidana teroris tersebut telah dipindahkan ke Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Penyanderaan dan pembunuhan yang dilakukan narapidana teroris yang berjumlah 156 orang di rutan Mako Brimob terjadi selama 36 Jam sejak Selasa (8/5/2018) malam. (wan)