Sejumlah Ormas dan Tokoh Aksi 212 Mengecam Tindakan Teroris di Surabaya

322
Ketua Umum P4 Hendry Yatna dan Ketua Umum K212 Rijal

Porosberita.com, Jakarta – Sejumlah organisasi masyarakat (ormas) dan tokoh aksi 212 mengutuk keras rentetan aksi teroris yang terjadi beberapa hari terakhir.

Ketua Umum KORPS 212 Rijal menyatakan bahwa rentetan aksi teroris yang telah menelan korban jiwa dan luka-luka sama sekali tidak mencerminkan sikap Islam. Sebab, Islan tidak mengajarkan segala bentuk kekerasan. “Kami mengutuk keras segala bentuk aksi kekerasan, apalagi sampai ada jatuh korban jiwa dan luka-luka serta perusakan tempat ibadah. Itu tidak mencerminkan Islam, sebab Islam itu rahmatan lil alamin. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan untuk mencapai tujuan,” tegas Rijal yang saat ini juga mencalonkan diri saebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI kepada wartawan di Jakarta, Minggu (13/5/2018).

Ketua Umum Laskar Santri Ferly Syahadat dan Wasekjen K212 Ridwan Umar

Senada dengan itu, Ferly Syahadat, Ketua Umum Laskar Santri mengimbau kepada seluruh ;lapisan masyarakat untuk membantu aparat mengungkap siapa pelaku dan dalang dibalik aksi teroris tersebut. “Kami mengimbau segenap masyarakat untuk membantu aparat hukum agar pelaku pengeboman tersebut segera ditangkap”. Kata Ferly.

“Laskar Santri siap bekerjasama dengan semua pihak agar tercipta perdamaian di bumi Indonesia tercinta ini” imbuh Ferly.

Sementara, Hendry Yatna, Ketua Umum P4 (Perhimpunan Pemuda dan Pengusaha Pancasilais) juga menyampaikan kecaman keras terhadap rentetan aksi teroris tersebut.  “kami mengutuk kekejaman yang terjadi pada pagi ini, tidak ada seorangpun dibolehkan membunuh manusia lainnya. Karena itu, kami mengecam dan mengutuk keras segala bentuk kekerasan serta perusakan tempat ibadah,” kata Hendry.

Hendry menilai kejadian pengeboman di gereja-gereja kerap yang kerap terjadi merupakan uapaya kelompok tertentu untuk memecah belah persatuan dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Untuk itu, pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan peristiwa tersebut.

“Saya yakin ini adalah usaha pemecahbelahan kerukunan umat beragama bangsa kita yang selama ini kokoh berdiri tegak diatas kesadaran ideologi bangsa yang bernama pancasila. Kami mengajak semua elemen masyarakat untuk tidak terprovikasi atas tindakan biadab tersebut, bangsa kita adalah bangsa yang mencintai nilai kemanusiaan, karena setiap masyarakat Indonesia yang berTuhan pasti memiliki rasa kemanusiaan, dan Bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan” pungkas Hendry.

Seperti diberitakan, rentetan peristiwa aksi teroris terjadi di Tanah Air.  Pada Minggu (13/5/2018) pagi telah terjadi ledakan bom di Surabaya, Jawa Timur. Pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur menyebutkan sebanyak delapan orang tewas dan 38 orang lain mengalami luka-luka.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera menjelaskan korban jiwa sebanyak empat orang di Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel utara, dua orang sekitar Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, dan dua orang lainnya di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Sawahan di Jalan Arjuno, Surabaya.

“Saat ini, jumlah korban meninggal ada delapan orang, selain itu ada 38 orang dibawah ke rumah sakit, termasuk anggota polisi,” terangnya.

Sampai saat ini, pihaknya masih terus melakukan identifikasi, dan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta melakukan serangkaian tindakan kepolisian lain.

Untuk diketahui, ledakan yang diduga berasal dari bom bunuh diri terjadi di tiga tempat saat jemaat di gereja melakukan ibadah sekitar pukul 07.00 WIB.

Frans menuturkan ledakan bom ditiga tempat itu diduga dilakukan oleh pelaku yang menyamar menjadi jemaat gereja, kemudian meledakkan dirinya sendiri hingga mengenai sejumlah korban.

“Jadi, pelaku pura-pura ingin masuk gereja, tapi kenyataannya mereka melakukan (meledakkan bom) seperti itu,” kata Frans.

Sebelumnya, sebanyak 5 polisi dan seorang narapidana teroris meninggal di Rutan Mako Brimobn, Kelapa dua, Depok, Jawa Barat.

Pada Kamis (10/5/2018) kerusuhan yang berujung penyanderaan polisi oleh tahanan kasus terorisme di Mako Brimob telah berakhir. Seluruh Narapidana teroris tersebut telah dipindahkan ke Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Penyanderaan dan pembunuhan yang dilakukan narapidana teroris yang berjumlah 156 orang di rutan Mako Brimob terjadi selama 36 Jam sejak Selasa (8/5/2018) malam. (wan)