Menkes Minta Jenazah Korban Bencana di Palu dan Donggala Segera Dimakamkan

114

Porosberita.com, Jakarta – Menteri Kesehatan, Nila Moeloek meminta agara jenazah korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah segera dimakamkan. Sebab, jenazah yang membusuk berbahaya bagi para korban atau pasien yang dirawat di halaman rumah sakit.

“Kami meminta untuk cepat, kuburan massal, agar rumah sakit tidak tercemar jenazah untuk tidak menimbulkan infeksi,” kata Menkes di Jakarta, Senin (1/10/2018) seperti dikutip dari Antara.

Menkes mendapatkan informasi bahwa banyak jenazah korban yang disimpan di halaman rumah sakit sementara para korban luka juga dirawat di luar halaman.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, saat dihubungi mengatakan jenazah yang dikirimkan ke rumah sakit datang silih berganti.

“Pada satu waktu pernah sampai 200 jenazah, dan itu ngga mungkin ditaruh di dalam ruangan. Semua dijejerin di halaman,” kata Yurianto.

Dia menerangkan, bahaya dari pembusukan jenazah ialah dari kuman yang dicemarkannya melalui cairan maupun gas yang bisa menimbulkan penyakit. Pembusukan jenazah bisa menjadi lebih berbahaya pada korban yang mengalami luka terbuka.

“Pembusukan dari jam pertama sudah terjadi. Yang paling cepat itu di bagian otak dan saluran pencernaan. Karena di dalam usus jenazah itu tidak steril banyak penyakit dan kuman, membentuk gas yang banyak sekali hingga menggembung. Justru yang kita takutkan pembusukan yang cepat ini,” kata dia.

Dia menerangkan jenazah juga menghasilkan cairan dari pembusukan yang bisa mengalir kemana-mana. “Ini sangat berbahaya bagi pasien lain, oleh karena itu seharusnya dimakamkan,” kata Yurianto.

Dia mengungkapkan hingga saat ini proses pemakaman massal sudah berjalan dengan menetapkan lokasi penggalian dan mulai penguburan. Hanya saja proses belum selesai karena jenazah yang terus berdatangan.

Jenazah yang datang di rumah sakit terlebih dulu diidentifikasi oleh pihak kepolisian untuk mengentahui identitas korban. Jika pada korban tidak terdapat kartu tanda pengenal, maka jenazah akan difoto kemudian dilabeli.

Foto korban ini untuk bisa diketahui identitasnya di kemudian hari bila ada keluarga atau kerabat yang mengenalinya. Sementara pelabelan digunakan untuk data pada lokasi pemakaman massal. (sur)