Sun. Jul 3rd, 2022

Pandemi Corona Lahirkan Budaya Baru di Kampus

Ketua Dewan Pembina Yayasan Unkris Prof. Dr. Topane Gayus Lumbuun, SH, MH bersama Rektor Unkris Dr. Ir. Ayub Muktiono, M.SIP, CiQAR.

Porosberita.com, Jakarta – Pandemi Covid-19 (Corona) melahirkan budaya baru dalam kehidupan kampus. Mahasiswa dan dosen ‘dipaksa’ menggunakan teknologi sebagai sarana belajar jarak jauh demi mentaati protokol kesehatan.

Dibalik itu semua, mahasiswa dan dosen mendapatkan sejumlah pelajaran berharga. Pertama,  bagaimana menjadi manusia disiplin dan tertib.

Hal itu dilontarkan  Ketua Dewan Pembina Yayasan Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Prof. Dr. Gayus Lumbuun, SH, MH seuasi mengikuti acara pelantikan Rektor Unrkis Dr. Ir. Ayub Muktiono, M.Sip di Kampus Unkris di Jalan Jatiwaringin Raya, Pondok Gede, Jakarta Timur pada Jumat Jumat (13/11/2020).

“Masa Pendemi Covid-19 ini melahirkan budaya baru bagi kalangan kampus, dimana para dosen dan mahasiswa harus menggunakan teknologi untuk belajar jarak jauh. Hal itu terkait kewajiban mematuhi protokol kesehatan,” ujar mantan Hakim Agung ini.

“Tapi, budaya baru itu sekaligus memberi banyak pelajaran berharga. Pertama, soal kedisplinan dan ketertiban. Dosen dan mahasiswa harus disiplin menjaga jarak, hal itu ditunjukkan dengan proses belajar jarak jauh. Meski tidak bertatap muka langsung seperti biasa, namun proses belajar harus tetap dijalankan. Mahasiswa sebagai calon intelektual dihadapkan pada keharusan untuk tertib mengikuti protokol kesehatan, misalnya menjalankan 3M (mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak),” jelasnya.

Pelajaran kedua, lanjut Gayus, kampus sebagai tempat penelitian dipacu untuk mencari pola yang tepat di tengah pandemi. Hal itu, terkait berbagai aspek ilmu pengetahuan. Selain penggunaan teknologi juga bagaimana interaksi sosial dan penerapan hukumnya.

“Kampus sebagai dunia penelitian dipacu dari berbagai aspek. Kalau teknologi itu sudah keharusan, tapi juga aspek hubungan sosial dan kalau di Unkris itu kajian dan penelitiannya di FIA (Fakultas Ilmu Administrasi) serta aspek hukumnya bagaimana. Bagaimana hukum bisa menggali keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Jadi, ada aspek teknologi, sosial, hukum dan pengelolaan masyarakat di tengah masa pandemi ini. Semua itu dilakukan di kampus,” paparnya.

Lebih lanjut, Gayus menyatakan lahirnya budaya baru di kampus selama masa pandemi, bisa menjadi modal untuk menghadapi kemungkinan munculnya persoalan serupa apabila kelak virus corona bisa diatasi.

“Nah, Unkris sebagai salah satu dari 10 kampus tertua di Indonesia memiliki tanggungjawab bersama masyarakat, karena kampus terdiri dari unsur masyarakat. Unkris mencetak masyarakat biasa menjadi insan akademis, menjadi masyarakat intelektual. Itulah cita-cita para pendiri Unrkis,” pungasknya. (wan)