Fri. Jul 1st, 2022

Juliari Diperiksa Sebagai Saksi Tersagka Lain Dalam Kasus Bansos Covid-19

Juliari P. Batubara (foto : Istimewa)

Porosberita.com, Jakarta – Tersangka kasus pengadaan bantuan sosial Kementerian Sosial untuk wilayah Jabodetabek yang merupakan nantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),

Juliari diperiksa sebagai saksi untuk tersangka lainnya dalam kasus tersebut.. “Juliari P Batubara, diperiksa sebagai saksi untuk para tersangka lainnya yaitu MJS dan kawan-kawan. Penyidik mendalami keterangan yang bersangkutan terkait dengan latar belakang, kebijakan, dan proses pengadaan bansos Kemensos untuk wilayah Jabodetabek tahun 2020,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Kamis (24/12/2020).

Dalam kasus ini ada empat tersangka yang juga ditetapkan bersama Juliari, yakni pejabat pembuat komitmen di Kementerian Sosial Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono, serta Ardian I M dan Harry Sidabuke selaku pihak swasta.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata mengungkapkan saat ini penyidik masih terus mendalami vendor atau perusahaan-perusahaan yang menjadi penyalur bansos.

Untuk diketahui, terdapat 272 kontrak terkait pengadaan serta penyaluran paket bansos berupa sembako yang sedang didalami penyidik KPK. Untuk itu, penyidik KPK menelusuri proses pemilihan vendor hingga penyaluran bansos ke masyarakat.

“Jadi prinsipnya kan ada 272 kontrak kalau enggak salah, ya semua harus didalami. Siapa mendapat pekerjaan itu, dari mana, atau bagaimana dia mendapatkan pekerjaan itu dan apakah dia melaksanakan penyaluran sembako itu atau hanya, itu tadi, modal bendera doang, disub-kan, itu semua harus didalami. Kita ingin lihat sebetulnya berapa sih dari anggaran itu yang sampai ke masyarakat,” jelas Alexander.

Alex pun sempat mengaku mendapat informasi bahwa bansos berupa paket sembako tersebut disunat cukup banyak. Informasi itu menyebut paket sembako yang dianggarkan Rp300 ribu untuk satu keluarga, dipotong menjadi hanya Rp200 ribu.

“Kalau informasi di luar sih, wah itu dari Rp300 ribu, paling yang sampai ke tangan masyarakat Rp200 ribu,” ungkapnya.  (wan)