Fri. Jul 1st, 2022

Usai Buat Berita Korupsi Bansos, Ponsel Wartawan Tempo Diretas

Porosberita.com, Jakarta – Telepon seluler (ponsel) wartawan Tempo diretas usai menulis berita soal pembagian bantuan sosial (bansos) dalam kasus dugaan korupsi Menteri Sosial Juliari P Batubara.

“Segera lindungi jurnalis dari ancaman serangan digital,” kata Koordinator Komite Keselamatan Jurnalis, Sasmito, melalui keterangan tertulisnya pada Sabtu (26/12/2020).

Sasmito menuturkan, kronologi ancaman yang dialami wartawan Tempo tersebut. Pada tanggal 24 Desember 2020 sekitar pukul 01.12 WIB, seorang wartawan yang terlibat dalam laporan mengenai pembagian bansos mendapati kejanggalan pada email, akun media sosial, dan aplikasi pengirim pesan instan di ponselnya.

Awalnya dari pemberitahuan aplikasi Telegram yang menunjukkan ada upaya masuk melalui perangkat yang tidak dikenal dengan alamat IP 114.124.172.93 dari Jakarta. “Berturut-turut, ia memeriksa akun email yang menunjukkan pemberitahuan ada akses dari perangkat yang tidak ia kenali,” terangnya.

Selain itu, wartawan bersangkutan juga menemukan petunjuk terkait ada yang masuk ke akun Facebook miliknya yang sudah lama tidak diaktifkan (deaktivasi) sekitar 6 bulan.

Sekitar pukul 03.27 WIB, tiba-tiba terjadi logout dari akun Whatsapp tanpa diminta dan tidak bisa masuk untuk mengakses aplikasi Whatsapp untuk beberapa waktu. Meski ia berkali-kali meminta kode akses, namun tak ada SMS kode verifikasi yang diterimanya

“Begitu pula permintaan ‘call me’ tidak membuahkan hasil. Barulah sekitar 10 menit kemudian, pada pukul 03.36 WIB, ia menerima SMS verifikasi dari Whatsapp. Ia lalu melapor ke kantor dan mendapat konsultasi keamanan digital dari SAFEnet,” jelas Sasmito.

Rupanya, kata Sasmito, upaya percobaan peretasan kembali terjadi kepada wartawan dan kali ini upaya ini terjadi pada anggota tim redaksi Tempo yang sedang mengungkap pembagian bansos yang ditengarai mengalir ke banyak pihak.

“Sekalipun peretasan ini tidak berlangsung lama, tetapi upaya ini jelas-jelas melanggar hukum,” ungkapnya.

Atas peristiwa itu, Komite Keselamatan Jurnalis mendesak polisi untuk mengusut kasusnya. “Kami minta ditegakkannya hukum kepada pelaku peretasan sesuai hukum yang berlaku di Indonesia untuk melindungi kemerdekaan pers dan kemerdekaan ekspresi,” tegas Sasmito.

Sasmito menyatakan ada dua yang dilanggar hukum dalam peristiwa yang dialami oleh Jurnalis Tempo. Pertama, sesuai UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, setiap orang yang menghalangi kebebasan pers terancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp500 juta.

Kedua, sesuai UU ITE Pasal 30 juncto Pasal 46 kegiatan mengakses secara melawan hukum adalah tindakan pidana.

Tak hanya itu, Sasmito menandaskan bahwa tindakan peretasan ini jelas juga melanggar hak atas rasa aman yang dilindungi hukum hak asasi manusia (HAM) dan merupakan pelanggaran dari hak digital.

“Hilangnya atas rasa aman dapat mengganggu kemerdekaan pers, dan kebebasan berekspresi mereka yang ditarget oleh serangan peretasan semacam ini,” paparnya. (wan)