Tue. Jul 5th, 2022

MUI Pertanyakan Maksud PTPN Ambil Lahan Ponpes Markaz Syariah di Megamendung

Waketum MUI Anwar Abbas

Porosberita.com, Jakarta – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mempertanyakan untuk apa PT Perkebunan Nusantara VIII atau PTPN ingin mengambil lahan di Megamendung, Puncak, Jawa Barat yang selama ini dipergunakan untuk pondok Pesantren Markaz Syariah Argokultural milik Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu yang kerap disapa Buya Anwar ini menegaskan Habib Rizieq melalui Pesantren Markaz Syariah jelas telah membantu tugas pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Buya Anwar lantas mengutip pernyataan Wakil Presiden RI pertama Moh.Hatta bahwa “Milik tanah dalam Republik Indonesia berarti menerima suatu kewajiban terhadap produksi dengan pedoman: menghasilkan sebanyak-banyaknya untuk memperbesar kemakmuran rakyat”. Demikian Buya Anwar dalam keterangannya, yang dikutip Senin (28/12/2020).

Menurutnya, dalam kasus lahan Markaz Syariah (MS) yang dikelola oleh Habib Rizieq, merupakan tanah yang sudah lama digarap oleh masyarakat. Sebab, PTPN VIII sendiri tidak mampu membuat lahan itu produktif sehingga digarap masyarakat.

“Lahan ini sudah dimanfaatkan secara produktif oleh rakyat, bahkan sudah puluhan tahun. Jika benar itu lahan PTPN VIII berarti pihak PTPN tidak mampu memproduktifkannya telah melepaskan lahan itu kepada masyarakat kemudian oleh masyarakat sudah dipergunakan untuk kepentingan pertanian,” paparnya.

“Pada masa sekarang, oleh Habib Rizieq tanah tersebut dibeli dari petani untuk mendirikan lembaga pendidikan berupa pesantren. Tujuan dari pendirian pesantren tersebut oleh Habib Rizieq tentunya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara konstitusional secara jelas sekali tugas mencerdaskan kehidupan bangsa itu adalah terletak di pundak negara dan pemerintah. Oleh karena itu kehadiran Habib Rizieq dan atau yayasan yang dipimpinnya di atas tanah tersebut telah melaksanakan dua hal yang diamanati oleh negara,” jelasnya.

Buya Anwar menguraikan, kehadiran Habib Rizieq dan yayasan yang dipimpinnya di atas tanah tersebut, telah melaksanakan dua hal yang diamanati oleh negara. Pertama, telah memproduktifkan lahan tersebut. Artinya kata dia, sudah ikut membantu menegakkan ketentuan negara/pemerintah.

Kedua, lanjut, Habib Rizieq telah membantu tugas negara/pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Yang menjadi masalah sekarang PTPN yang ditugasi oleh pemerintah untuk mengurus tanah tersebut akan mengambil kembali tanah tersebut. Saya rasa boleh-boleh dan sah-sah saja PTPN melakukan hal demikian. Cuma yang menjadi masalah HRS sudah menghabiskan dana yang besar untuk itu yang dia himpun dari masyarakat dan dari diri dan keluarganya sendiri. Untuk itu tentu etisnya PTPN memberikan ganti rugi kepada yayasan HRS tersebut dengan ganti rugi yang pantas,” jelasnya.

Karena itu, Buya Anwar mempertanyakan, setelah tanah itu diambil kembali oleh PTPN, akan dipergunakan untuk apa lahan tersebut. Justru menurutnya, dengan telah dibangunnya sekolah dan lembaga pendidikan di atasnya berarti Habib Riziek sudah melaksanakan tugas membantu negara dan pemerintah.

“Oleh karena itu jika PTPN tidak dan atau belum akan memanfaatkannya dalam waktu dekat untuk sesuatu yang memang ‘sangat-sangat penting’ dan sangat urgen bagi bangsa ini, maka menurut saya untuk apa gunanya PTPN mengambilnya kembali. Bukankah sebenarnya Habib Rizieq sudah sangat  membantu tugas negara/ pemerintah?” ujarnya.

Menurut Buya Anwar, seharusnya negara atau pemerintah mendorong jika ada kelompok tertentu ingin membangun bangsanya. Tidak dengan mengambil lahan yang puluhan tahun tidak produktif berada di tangan negara.

“Jadi bila kasus ini dikaitkan dengan konstitusi dan pernyataan Bung Hatta tersebut maka tindakan pemerintah yang benar dan yang paling tepat menurut saya bukan mengambil kembali lahan tersebut. Melainkan, membantu lembaga pendidikan atau pesantren yang ada di atas tanah tersebut agar bisa berjalan dengan lebih baik lagi,” jelasnya.

Sebab tujuannya jelas, kata Buya Anwar, yakni membantu tugas pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terbantu. Maka, sangat besar manfaatnya ke depan untuk kehidupan bangsa dan negara dalam mencerdaskan generasi.

“Apalagi ini pun ada perkataan lain dari Bung Hatta  bila pendidikan itu merupakan bagian sentral dari pembangunan. Ini karena di sinilah sebenarnya terletak dan ditentukannya maju dan tidak majunya nasib sebuah bangsa,” pungkasnya. (wan)