Fri. Jul 1st, 2022

Memaknai Natal 2020 & Tahun Baru 2021 Di Tengah Pandemi Global

Porosberita.com, Jakarta – Tidak terasa hampir satu tahun sudah semenjak pandemi global COVID-19 yang dipicu oleh Virus SARS-CoV-2 melanda bumi tempat kita semua berada menjalani kehidupan fana ini.

Selain konsekuensi kesehatan yang ditimbulkan, pandemi ini telah membawa perubahan dan adaptasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Beberapa adaptasi yang barangkali sebelumnya di luar kebiasaan kita namun kini nampak secara kasat mata misalnya perubahan perilaku kesehatan dan pola hidup terkait, penyesuaian dalam interaksi sosial, meningkatnya kebutuhan dan ketergantungan terhadap teknologi digital untuk pendidikan hingga pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.

Demikian siaran pers Dewam Komunikasi Nasional Gerea Yesus Kristus bertema : Kuasa Penyembuhan Dari Rasa Syukur—Memaknai Natal 2020 & Tahun Baru 2021 Di Tengah Pandemi Global, 30 Desember 2020

Tetapi yang paling menarik adalah penyesuaian yang terjadi di bidang kerohanian seolah-olah belum pernah terjadi sebelumnya dimana teknologi aplikasi daring kini memiliki peranan penting dalam kebutuhan manusia untuk tetap dapat menjalankan ibadah secara berkelompok.

Sebagai sebuah gereja global yang tersebar di 160 negara di seluruh dunia, jemaat Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir tidak luput dari dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini. Ibadah sekali seminggu yang biasanya dilangsungkan di gedung-gedung pertemuan Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di seluruh Indonesia telah berganti menjadi ibadah mandiri bersama keluarga dan memanfaatkan aplikasi daring untuk Sekolah Minggu dan kelas-kelas lainnya.

Namun kondisi ini tetaplah patut untuk disyukuri oleh jemaat Gereja seperti yang dinasihatkan oleh Pimpinan dan Presiden Gereja Yesus Kristus dari OrangOrang Suci Zaman Akhir, Russell M. Nelson, melalui sebuah pesan khusus kepada jemaat Gereja pada bulan November lalu. Presiden Nelson, demikian dia biasanya disapa oleh jemaatnya, lebih lanjut menceritakan pengalaman rohaninya ketika ia terbangun di suatu tengah malam dan benaknya dipenuhi dengan pikiran untuk memanjatkan “doa syukur” kepada Allah bagi semua anak-anak-Nya di seluruh dunia. “Benakku dipenuhi dengan semua hal yang mana kita sepatutnya mengucap syukur dan ungkapan rasa syukur inilah yang dapat menjadi Roh

Penyembuh dalam kehidupan kita”.

Presiden Nelson kemudian mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam sebagai seorang ilmuwan, dan sebagai orang beriman, terhadap pandemi di seluruh dunia saat ini. Sebagai ilmuwan, ia mengapresiasi kebutuhan kritis untuk mencegah penyebaran infeksi.

Beliau menghormati pelayanan penuh dedikasi para professional kesehatan dan berduka bagi banyak orang yang kehidupannya terganggu oleh COVID-19. Namun, sebagai orang beriman, ia melihat pandemi saat ini hanya sebagai salah satu dari banyak penyakit yang mewabahi dunia saat ini, termasuk kebencian, kerusuhan sipil, rasisme, kekerasan, ketidakjujuran, dan kurangnya kesantunan.

“Para ilmuwan dan peneliti terampil bekerja keras untuk mengembangkan dan mendistribusikan vaksin terhadap virus corona, namun tidak ada pengobatan atau operasi yang dapat memperbaiki banyak kesengsaraan dan penyakit rohani yang kita hadapi. Tetapi, ada obat yang mungkin tampak mencengangkan karena itu bertentangan dengan intuisi alami kita. Meski demikian, pengaruhnya telah divalidasi oleh para ilmuwan juga pria dan wanita beriman. Saya mengacu pada kuasa penyembuhan dari rasa syukur”.

Kitab Mazmur sarat dengan nasihat untuk mengungkapkan rasa syukur.

Berikut tiga di antaranya:

“Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan.”

“Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik.”

“Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur.”

Yesus Kristus sering mengungkapkan rasa syukur. Sebelum membangkitkan Lazarus dari kematian, sebelum secara menakjubkan melipatgandakan roti dan ikan, dan sebelum mengedarkan cawan kepada para murid-Nya di Perjamuan Malam Terakhir, Juruselamat berdoa

Menutup pesan khususnya, Presiden Nelson membagikan bahwa dalam sembilan setengah dekade hidupnya yang telah ia jalani ia berkesimpulan bahwa “menghitung berkat kita lebih baik daripada menceritakan masalah kita.

Apa pun situasi kita, memperlihatkan rasa syukur atas privilese kita adalah resep rohani yang berfungsi cepat dan tahan lama.”

Sementara itu, salah seorang rohaniwan senior Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di Indonesia yang juga melayani di Kuroum Tujuh Puluh untuk wilayah pelayanan Malaysia Timur dan Indonesia, Elder Djarot Subiantoro, mengatakan, “Anggota Gereja kami di Indonesia dan di seluruh dunia menerima pesan khusus Presiden Russell M. Nelson ini sebagai sebuah wahyu yang bersifat global bagi kami semua. Izinkan kami meneruskan dan memperluas pesan khusus ini kepada semua orang tanpa terkecuali. Seperti yang telah kami lakukan, kami mengajak semua orang untuk mau membanjiri akun-akun media sosial mereka dengan ungkapan-ungkapan rasa syukur di sisa tahun 2020 ini yang sebentar lagi akan berganti”.

Mungkin rasa syukur tidak selalu menyelamatkan kita dari kesengsaraan, kesedihan, kemalangan, dan rasa sakit. Namun, itu melembutkan perasaan; itu menyediakan bagi kita perspektif lebih besar mengenai tujuan utama dan sukacita kehidupan. (*)