Tue. Jul 5th, 2022

KPK Sebut Ada Aliran Suap Ke Setneg Terkait kasus PTDI

Porosberita.com,Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membidik sejumlah pihak di Sekretariat Negara. Hal itu setelah KPK mengetahui adanya aliran suap ke sejumlah pihak di Sekretariat Negara terkait kasus korupsi pengadaan kegiatan penjualan dan pemasaran PT Dirgantara Indonesia (PTDI.

Plt. Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri mengungkapkan, hal itu diketahui saat penyidik memeriksa dua saksi untuk tersangka Budiman Saleh, yakni mantan Kepala Biro Umum Sekretariat Kemensetneg Piping Supriatna dan mantan Sekretaris Kemensetneg Taufik Sukasah, Selasa (26/1/2021).

“Kedua saksi tersebut didalami pengetahuannya terkait adanya dugaan penerimaan sejumlah dana oleh pihak-pihak tertentu di Setneg terkait proyek pengadaan service pesawat PT Dirgantara Indonesia,” ungkap Ali.

Diketahui, Budiman diduga menerima aliran dana sebesar Rp 686.185.000 saat masih menjabat sebagai Direktur Aerostructure (2007-2010), Direktur Aircraft Integration (2010-2012), dan Direktur Niaga dan Restrukturisasi (2012-2017) di PTDI.

Untuk itu,  KPK menjerat Budiman dengan Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHPidana.

Perkara ini berawal saat direksi PTDI periode 2007-2010 menggelar Rapat Dewan Direksi (BOD/Board of Director) pada akhir tahun 2007. Rapat tersebut membahas dan menyetujui sejumlah hal, diantaranya, penggunaan mitra penjualan (keagenan) beserta besaran nilai imbalan mitra dalam rangka memberikan dana kepada customer/ pembeli PTDI atau end user untuk memperoleh proyek.

Adapun pelaksanaan teknis kegiatan mitra penjualan dilakukan oleh direktorat terkait tanpa persetujuan BOD dengan dasar pemberian kuasa BOD kepada direktorat terkait.

Serta persetujuan atau kesepakatan untuk menggunakan mitra penjualan sebagai cara untuk memperoleh dana khusus guna diberikan kepada customer/ end user dilanjutkan oleh direksi periode 2010-2017.

Dalam perkara ini, selain Budiman, KPK juga telah menetapkan tersangka lainnya, mantan Direktur Utama PTDI, Budi Santoso; mantan Direktur Niaga PTDI, Irzal Rinaldi; serta Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan PTDI 2007-2014 dan Direktur Produksi PTDI 2014-2019, Arie Wibowo.

Kemudian Direktur Utama PT Abadi Sentosa Perkasa, Didi Laksamana; serta Direktur Utama PT Selaras Bangun Usaha, Ferry Santosa Subrata.

Budi Santoso didakwa melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri Rp2.009.722.500, sementara Irzal  memperkaya diri sendiri Rp13.099.617.000. (wan)