Tue. Jul 5th, 2022

Kematian Anak Akibat Corona Tertinggi di Indonesia

Porosberita,com, Jakarta – Anggota Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Kurniawan Taufiq Kadafi, M. Biomed, Sp.A (K) mengungkapkan Indonesia termasuk negara yang memiliki angka kematian anak terkonfirmasi COVID-19 tertinggi di dunia.

Menurut Kurniawan, dibandingkan dengan Amerika Serikat tingkat kematian pasien kategori anak Indonesia masih lebih tinggi.

“Di Amerika, tercatat dari 100 ribu pasien COVID-19 kategori anak ada 42 orang di antaranya meninggal dunia. Sedangkan di Indonesia, data pada bulan Juli 2020 lalu dari 88.214 anak penderita COVID-19, 56 pasien di antaranya meninggal dunia. Jika dilihat dari kalkulasinya angka kematian anak di Indonesia lebih tinggi,” kata Kurniawan dalam sebuah webinar yang digelar oleh WorlDS (World Down Syndrome pada Senin (15/2/2021).

Kurniawan menjelaskan, penyebab kematian pasien COVID-19 anak-anak karena memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid kemudian terjangkit COVID-19. Bahkan beberapa kasus pasien anak baru diketahui bahwa si anak punya penyakit penyerta usai menjalani perawatan di rumah sakit setelah terkonfirmasi COVID-19.

“Kami beberapa kali menangani kasus seperti ini hingga berujung pada kematian pasien. Selain itu, layanan untuk penanganan bagi pasien anak di sejumlah fasilitas kesehatan masih belum maksimal. Jangankan untuk anak penderita COVID-19, layanan penyakit bagi anak seperti TBC tidak maksimal,” jelasnya.

Lebih lanjut Kurniawan mengatakan, anak berkebutuhan khusus memiliki risiko yang lebih tinggi terpapar COVID-19 apalagi jika memiliki penyakit penyerta. Kurniawan melanjutkan, pemerintah sayangnya juga tidak memiliki peta anak yang punya penyakit penyerta. Berbeda dengan dewasa, pemerintah sudah memetakan pasien komorbid yang punya risiko tinggi terpapar COVID-19.

“Data secara nasional spesifik mengenai anak berkebutuhan khusus yang terkena COVID-19 memang belum ada. Namun anak dengan kondisi Down Syndrome ini sebagian besar komorbid. Sehingga masuk kategori risiko tinggi di masa pandemi ini,” tutur Kurniawan.

Untuk itu, peran keluarga dalam mencegah COVID-19 di rumah cukup penting. Sebab, risiko penularan anak-anak paling tinggi berasal dari orang dewasa. Aktivitas sekolah belum dimulai. Risiko tertular COVID-19 menjadi tanggung jawab orang tua.

“Orang tua paling berpotensi menularkan virus pada anaknya. Kuncinya adalah harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19,” jelasnya. (sur)