Sun. Oct 24th, 2021

Jurnalis Jadi Tersangka Karena Liput Demo Myanmar

Porosberita.com, Jakarta – Enam jurnalis di Myanmar, termasuk seorang juru foto kantor berita Associated Press, Thein Zaw, yang ditangkap saat meliput demonstrasi kini menjadi tersangka.

Kabar itu disampaikan oleh kuasa hukum Then Zaw, Tin Zar Oo, pada Rabu (3/3). Dia mengatakan kliennya dan lima jurnalis itu ditahan di penjara Insein, Yangon.

“Ko Thein Zaw hanya meliput berdasarkan undang-undang kebebasan pers, dia tidak ikut aksi protes, dia hanya melakukan pekerjaannya,” kata Tin Zar Oo, dikutip dari AFP.

Then Zaw dan lima jurnalis Myanmar lainnya, kata Zar Oo, disangka melanggar undang-undang karena menyebabkan ketakutan, menyebarkan berita palsu atau membuat marah pegawai pemerintah secara langsung atau tidak langsung.

Penangkapan enam jurnalis itu membuat Wakil Presiden Berita Internasional Associated Press, Ian Philips, mendesak supaya Thein Zaw segera dibebaskan.

“Jurnalis independen harus diperbolehkan memberitakan berita dengan bebas dan aman tanpa takut,” kata Philips.

“Associated Press mengecam dengan keras penahanan sewenang-wenang terhadap Thein Zaw,” tambah Philips.

Thein Zew ditangkap di pusat kota Yangon pada Sabtu pekan lalu saat meliput demonstrasi.

Sementara lima jurnalis lain yang turut ditangkap berasal dari media massa Myanmar Now, Myanmar Photo Agency, 7Day News, Zee Kwet Online news dan seorang jurnalis lepas.

Menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP), lebih dari 1.200 orang ditangkap sejak kudeta pada 1 Februari lalu. Sekitar 900 orang di antaranya masih di balik jeruji besi atau diseret ke pengadilan.

Akan tetapi, jumlah orang yang ditangkap usai kudeta dan dalam gelombang unjuk rasa sebenarnya jauh lebih tinggi. Media yang dikelola pemerintah melaporkan pada Minggu pekan lalu ada lebih dari 1.300 orang ditangkap.

AAPP mengatakan ada 34 wartawan di antara mereka yang ditahan aparat Myanmar. Dari jumlah itu, 15 jurnalis sejauh ini sudah dibebaskan.

“Penindasan ini menghalangi arus informasi dan berita yang akurat,” kata AAPP.

Mereka menambahkan bahwa wartawan menjadi sasaran kekerasan aparat meskipun memiliki identitas yang jelas.

Pada Senin (1/3/2021) lalu, seorang jurnalis Myanmar dari media Suara Demokratik Burma (DVB) yang sedang menyiarkan secara streaming proses penggerebekan oleh aparat di kediamannya turut ditangkap.

Di dalam rekaman itu terdengar aparat melepaskan tembakan di luar gedung apartemennya saat dia meminta kepada pihak berwenang untuk tidak menembak.

Sejak kudeta 1 Februari lalu, junta militer semakin represif melawan pedemo dengan menggunakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet hingga peluru tajam. (CNN Indonesia)