Mon. Jan 24th, 2022

Densus 88 Sebut Tersangkakan 24 Orang Terkait Pendanaan JI

Porosberita.com, Jakarta – Sebanyak 24 orang dijadikan tersangka berkaitan dengan pendanaan jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI) yang terbagi dalam dua yayasan, yakni Syam Organizer dan Lembaga Amil Zakat Badan Mal Abdurrahman Bin Auf (LAZ BM ABA).

“Ada 14 dari BM ABA 10 dari SO (Syam Organizer) yang sudah ditangkap dan kami sudah mendapatkan lagi nama-nama ataupun peran-peran dari orang yang selanjutnya,” kata Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabagbanops) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar kepada wartawan, Kamis (25/11/2021).

Aswin menjelaskan, saat ini penyidik terus masih mengembangkan kelompok-kelompok yang menyandang dana untuk menghidupkan organisasi teroris tersebut selama ini.

Dalam setahun, lanjut Aswin, Densus menemukan kedua yayasan tersebut dapat meraup keuntungan hampir mencapai Rp30 miliar. Jumlah diperkirakan dapat bertambah lantaran hanya yang tercatat dalam laporan keuangan resmi milik yayasan.

“Pendapatannya hampir sekitar Rp15 miliar per tahun. Jadi itu yang baru masuk dalam hitungan laporan keuangan mereka. Di BM ABA juga tidak jauh beda, itu sekitara Rp14 miliar pertahun,” kata Aswin.

Aswin mengungkapkan, modus pendanaan teroris tersebut menggunakan sistem sel terputus untuk menghindari pencatatan-pencatatan formal yang dilakukan oleh pemerintah.

Misalnya, penyidik sempat menyita uang tunai sebesar Rp944,8 juta saat menggeledah kantor Syam Organizer beberapa waktu lalu.

Sejauh ini, lanjut Aswin, penyidikan untuk mengungkap mekanisme pendanaan jaringan JI tersebut masih terus dikembangkan. Penyidik masih menyusun rangkaian peristiwa yang selama ini berhasil diungkap.

Upaya yang dilakukan tersebut merupakan hal yang jangka panjang dan tidak memakan waktu dalam satu atau dua tahun terakhir.

Saat ini, lanjut Aswin, Densus 88 tengah menyasar pada sejumlah otak atau pihak yang berada di belakang organisasi untuk menggerakkan jaringan. Penangkapan kini tak lagi banyak dilakukan terhadap para kombatan jaringan yang melakukan aksi teror seperti pengeboman.

“Kami makin naik ke atas, kami sudah jauh dari tangan yang dulunya berlumuran lumpur dengan darah. Yang bagian meledak-meledak, yang bagian menyerang-menyerang. Sekarang kami naik ke atas ke bagian otak, strategi seperti pendanaan dan lainnya,” katanya. (wan)