Sun. Dec 4th, 2022

Polri Masih Koordinasi AS Untuk Tangkap Saifuddin

Pendeta Saefudin

Porosberita.com, Jakara – Polri mengaku masih berkoordinasi dengan kepolisian di Amerika Serikat (AS) untuk menangkap Pendeta Saifuddin Ibrahim yang menjadi tersangka penistaan agama. Saat ini, Polri akan menerbitkan red notice.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Gatot Repli Handoko menjelaskan bahwa upaya tersebut dilakukan agar proses hukum terhadap Saifuddin yang merupakan warga negara Indonesia (WNI) dan saat ini diduga tengah berada di Amerika Serikat.

“Masih ada beberapa data yang harus dilengkapi untuk memastikan kepada kepolisian yang ada di kita tuju itu untuk bisa paling tidak mengamankan yang bersangkutan,” kata Gatot kepada wartawan, Jumat (1/4/2022).

Gatot menyatakan, koordinasi dilakukan untuk memastikan keberadaan Saifuddin yang diduga berada di AS. Untuk itu pula, kepolisian sedang memproses penerbitan red notice untuk memburu Saifuddin di AS.

Red notice merupakan sebuah mekanisme berupa notifikasi permintaan dari satu negara anggota Interpol ke anggota lainnya–terdiri atas ratusan negara–untuk ikut mencari hingga menangkap buronan.

Menurutnya,  proses tersebut diambil Polri lantaran selama ini Saifuddin tak mengindahkan panggilan penyidik untuk dapat dimintai keterangannya atas kasus yang menjerat dirinya.

“Kalau dibilang dia ada di luar negeri, kan kami sudah mengimbau kepada yang bersangkutan. Dia sebagai warga negara Indonesia yang baik, bisa hadir memenuhi panggilan penyidik,” jelasnya.

Pendeta Saifuddin dijerat melanggar Pasal 45A ayat (1) Jo Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Pendeta Saifuddin diduga melakukan ujaran kebencian berdasarkan SARA, pencemaran nama baik, penistaan agama, pemberitaan bohong, dan dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat.

Diketahui telah beredar video Pendeta Saifuddin Ibrahim meminta agar 300 ayat dalam Alquran direvisi atau dihapus. Ia menilai ayat-ayat tersebut memuat ajaran intoleransi hingga terorisme.

Dalam akun atas nama Saifuddin Ibrahim ditemukan di Youtube. Akun tersebut juga mengunggah  kasus Muhammad Kace. (wan)