Tue. Jul 23rd, 2024

Ketika LBP Gagal ‘Membina’ Gus Dur

Gus Dur dan LBP

Porosberita.com, Jakarta – Kolumnis kondang Dahlan Iskan menukil kisah Luhut Binsar Pandjaitan gagal ‘membina’ Gus Dur -sapaan Abdurrahman Wahid di era pemerintahan Presiden Soeharto.

Dahlan menukil kisah ini dari buku berjudul ‘Luhut Binsar Pandjaitan Menurut Kita-Kita’ yang terbit atas inisiasi teman dekat Luhut, Peter F Gontha saat perayaan ulang tahun Menko Kemaritiman dan Investasi RI itu beberapa hari lalu.

Diceritakan bahwa Luhut kembali bertemu Gus Dur saat pensiunan tentara itu menjadi Dubes RI di Singapura (1999-2000), di era pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Pertemuan itu konon berlangsung menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (SU-MPR).

“Ketika itu belum ada gambaran Gus Dur maju sebagai calon presiden,” tulisan Dahlan, Disway edisi Sabtu (30/9/2023).

Disebutkan bahwa saat pertemuan itu, Gus Dur mengatakan ini kepada Luhut: “Saya akan jadi presiden sebentar lagi. Nanti Pak Luhut saya angkat menjadi menteri”.

Ternyata Gus Dur benar-benar jadi presiden. Luhut pun diangkat menjadi menteri perindustrian dan perdagangan (2000-2001).

Saat itu Luhut menjadi menteri menggantikan Jusuf Kalla yang diberhentikan Gus Dur.

Luhut Gagal ‘Membina’ Gus Dur

Di buku itu, seperti dikutip Dahlan Iskan, disebutkan Luhut kenal Gus Dur saat masih jadi Danrem di Madiun. Pangkatnya kolonel (1993-1995).

Ketika itu Luhut mendapat tugas berat dari pusat, yakni “membina” Gus Dur.

Tujuannya, agar Gus Dur bisa berubah dari anti-Soeharto menjadi pro-Soeharto. Setidaknya tidak lagi anti.

“Kata ‘membina’ adalah istilah dunia intelijen untuk tugas menundukkan. Saat itulah Luhut ikut acara-acara keagamaan NU. Terutama istigasah,” tulisan Dahlan.

Kesimpulannya: Luhut tidak berhasil “membina” Gus Dur. Ketua Umum PBNU itu sendiri tahu kalau lagi “dibina”. Maka Gus Dur justru “membina” Luhut.

Begitulah kalau orang pintar membina orang pintar. Jatuhnya menjadi saling membina.

“Anda juga sudah tahu: Gus Dur sangat dekat dengan Jenderal Benny Moerdani, panglima ABRI saat itu. Mungkin perkara bina-membina ini pula yang membuat Luhut tidak pernah menjabat KSAD,” tulisan Dahlan.

Karier Luhut di militer terbilang seret. Menjabat pangdam pun tidak pernah.

“Danrem Madiun itulah jabatan tertinggi sebagai komandan teritorial,” ujar Dahlan dalam tulisannya.

Luhut Dipanggil dengan Panggilan Gajah

Dahlan juga menukil kisah soal Hendropriyono memanggil Luhut dengan panggilan Gajah. Itu karena badannya besar dan tinggi.

Disebutkan bahwa ukuran tubuh Luhut sangat menonjol dibanding taruna (mahasiswa) Akabri lainnya. Panggilan “gajah” itu meluas. Siapa pun memanggil Luhut “gajah”.

Luhut awalnya masuk SMAN 1 Pekanbaru, Riau. Ayahnya memang pegawai perusahaan minyak Caltex. Luhut pernah juara renang di Riau. Pernah dikirim ke PON.

“Saat SMA itu Luhut nakal. Maka orang tuanya memindahkan Luhut ke Bandung. Masuk asrama SMAK 1 Penabur,” tulisan Dahlan.

Ketika di militer, Luhut sering menyelesaikan pekerjaan melebihi yang ditugaskan. Misalnya, ketika diminta mengurus latihan terjun di Amerika. Agar beberapa tentara kita bisa berlatih di sana.

Yang dilakukan Luhut adalah: mendatangkan pelatih Amerika ke Indonesia. Berikut pesawatnya dan peralatannya. Dengan demikian yang bisa ikut latihan jauh lebih banyak. Termasuk dirinya sendiri.

Demikian juga saat Luhut ditugasi mengirim tentara untuk latihan perang di hutan. Beberapa tentara harus dikirim ke Inggris.

“Yang dilakukan Luhut: mendatangkan pelatih dari Inggris. Alasannya: di sana tidak ada lagi medan yang benar-benar hutan,” tulisan Dahlan. (wan/JPNN.com)

About Author