Wed. May 27th, 2020

Moeldoko Nilai Perlu Evaluasi Status Operasi Papua

Porosberita.com, Jakarta – Menyusul tewasnya tiga prajurit TNI, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai perlu adanya evaluasi untuk menaikkan status operasi di wilayah Nduga, Papua.

“Saya sudah pernah menyampaikan perlunya mengevaluasi lagi nama itu, kelompok kriminal bersenjata. Pertanyaannya benar enggak mereka kelompok kriminal . Kalau saya mengatakan tegas saja kalau memang kelompok separatis ya kelompok separatis saja kan begitu. Sehingga status operasinya ditingkatkan.” ujar Moeldoko di Jakarta, Jumat (8/3/2019).

Menurutnya, jika terus-terusan dianggap sebagai kelompok kriminal, TNI akan terus menjadi santapan kekuatan mereka. TNI menyadari adanya kekuatan kelompok kriminal tersebut, namun mereka tidak bisa menindak karena merupakan ranah kepolisian.

“Masalahnya, situasi yang dihadapi oleh prajurit-prajurit di depan. Karena apa? Karena kalau itu kelompok kriminal bersenjata ya sama saja apa bedanya dengan kelompok kriminal di Tanah Abang, kan begitu. Ini yang nanti perlu kita pikirkan lebih jauh lagi,” terangnya.

Moeldoko menilai, belum adanya peningkatan status operasi terkendala sejumlah hal. Salah satu pertimbangannya adalah politik luar negeri. Karena itu, perlu ada sikap baru yang dikonsultasikan lebih jauh dengan sejumlah menteri terkait agar para prajurit tidak menjadi korban.

Seperti diketahui, pasukan TNI mendapat serangan dari kelompok bersenjata saat menjaga pembangunan infrastruktur Trans Papua di Kabupaten Nduga, Papua. Penyerangan yang terjadi pagi tadi, 7 Maret 2019 sekitar pukul 08.00 WIT itu menyebabkan tiga prajurit TNI gugur.

Mereka adalah Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin, dan Serda Siswanto Baju Aji. Kepala Dinas Penerangan Daerah Militer XVII/Cenderawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi membeberkan, saat pasukan TNI berjumlah 25 orang itu baru saja tiba di Distrik Mugi tiba-tiba mendapat serangan oleh sekitar lebih dari 50 anggota kelompok bersenjata.

Jenazah tiga prajurit TNI itu kemudian disemayamkan di kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Mimika, hingga Kamis (6/3/2019) malam.

Selanjutnya, pada Jumat (8/3/2019) ketiga jenazah diterbangkan ke kampung halaman masing-masing, yaitu Nusa Tenggara Barat, Palopo Sulawesi Selatan, dan Grobokan Jawa Tengah. (wan)