Fri. Jul 1st, 2022

Edhy Prabowo Mengaku Tak Kenal Saksi Deden Yang Meninggal Terkait Kasus Ekspor Lobster

Edhy Prabowo

Porosberita.com, Jakarta – Tersangka kasus dugaan korupsi izin ekspor benih lobster yang juga mantan Menteri Kelauatan dan Perikanan Edhy Prabowo mengaku tak mengenal Direktur PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) Deden Deni. Dalam kasus tersebut, Deden merupakan saksi kunci dalam kasus tersebut dan dikabarkan telah meninggal dunia.

“Enggak kenal,” kata Edhy seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (4/1/2021).

“Enggak kenal, enggak tahu saya,” imbuh Politikus Partai Gerindra itu.

Sebelumnya,  Saksi kunci perkara skandal suap ekspor benih lobster dikabarkan meninggal dunia. Diketahui, kasus yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Saksi kunci yang meninggal adalah Deden Deni sebagai pengendali PT Aero Citra Kargo. KPK menyatakan Deden meninggal dunia pada 31 Desember 2020.

“Informasi yang kami terima yang bersangkutan meninggal sekitar tanggal 31 Desember yang lalu,” kata Plt Jubir KPK Ali Fikri dikonfirmasi awak media, Senin (4/1/2021).

Ali mengaku pihaknya belum mengetahui apa penyebab Deden meninggal. Namun, Ali memastikan penyidikan kasus tersebut akan terus dilanjutkan. “Untuk proses penyidikan perkara tersangka EP dkk tidak terganggu,” katanya.

Ali pun memastikan pihaknya masih banyak memiliki saksi-saksi maupun bukti-bukti dalam mengusut kasus ini.  “Masih banyak saksi dan alat bukti lain yang memperkuat pembuktian rangkaian perbuatan dugaan korupsi para tersangka tersebut,” ujar Ali.

Untuk diketahui, Deden yang sudah dicegah ke luar negeri pernah diperiksa KPK pada 7 Desember 2020. Saat itu, penyidik mendalami dia soal pengajuan permohonan izin ekspor benur lobster di KKP.

Adapun PT ACK adalah satu-satunya perusahaan kargo yang mendapatkan izin untuk mengangkut benur ke luar negeri.

KPK menduga melalui PT ACK inilah, Edhy Prabowo Cs telah menerima sebagian duit pengangkutan. PT ACK memasang tarif pengangkutan Rp1.800 per ekor. Uang hasil ekspor itu kemudian diduga masuk ke rekening pemegang PT ACK, Ahmad Bahtiar dan Amri. KPK menduga kedua orang itu adalah nominee dari Edhy Prabowo. (wan)