Wed. Aug 4th, 2021

Hamas : PBB Tak Serius Atas krisis Kemanusiaan Gaza

Anak kecil Palestina korban konflik jalur Gaza

Porosberita.com, Jakarta – Salah satu faksi Palestina, Hamas, menuding bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tak ada niat untuk tak mengakhiri krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.

Seorang sumber melontarkan pernyataan ini tak lama setelah utusan PBB untuk urusan perdamaian Timur Tengah, Tor Wennesland, berdialog dengan sejumlah petinggi Hamas guna membahas berbagai isu setelah gencatan senjata dengan Israel.

Menurut sumber tersebut, dalam pertemuan itu Wennesland juga menyampaikan “pesan negatif” dari Israel untuk Hamas. Namun, sumber itu tak menjelaskan lebih lanjut pesan yang dimaksud.

Seorang pemimpin sayap politik Hamas, Yahya Sinwar, juga mengakui bahwa pertemuan itu tidak positif.

“Mereka mendengarkan kami dengan penuh perhatian, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ada niat untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza,” ujar Sinwar, seperti dikutip AFP.

Namun, PBB menolak berkomentar mengenai pertemuan itu.

Sementara itu, Israel mengklaim bahwa mereka sudah mengizinkan “ekspor terbatas” produk pertanian, serta truk yang membawa pakaian dan kain dari Gaza mulai Senin (21/6/2021).

Namun, Sinwar membantah pengakuan Israel. Ia menilai Israel tidak melakukan apa pun untuk mengubah situasi di Gaza.

Menurutnya, negara pimpinan Naftali Bennett itu terus memblokir bantuan internasional, serta pengiriman bahan bakar penting yang diperlukan untuk pembangkit listrik, dan membatasi pergerakan para nelayan di Laut Mediterania.

“Jelas bahwa pendudukan (Israel) terus mempraktikkan kebijakannya terhadap kami dan rakyat kami di Jalur Gaza,” ujar Sinwar.

“Kami mengatakan kepada perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa kami tidak akan menerima masalah ini.”

Sinwar mengatakan bahwa para pemimpin di Gaza akan bertemu dalam beberapa jam ke depan untuk memutuskan langkah selanjutnya.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas sendiri berlaku mulai 21 Mei lalu untuk mengakhiri saling serang kedua belah pihak yang sudah berlangsung selama 11 hari. (CNNIndonesia/nto)