Tue. Jul 5th, 2022

Habib Rizieq Kembali Serukan Dialog

Habib Rizieq

Porosberita.com, Jakarta – Revolusi identik dengan perubahan cepat yang begitu drastis. Adapun revolusi akhlak merupakan revolusi yang mengedepankan akhlak, terbuka atau melibatkan semua pihak tanpa terkecuali.

Demikian disampaikan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab saat memberikan sambutan dalam acara “Dialog Nasional 100 Ulama dan Tokoh” yang diselenggarakan PA 212 dan FPI di studio 2 Front TV, pada Rabu (2/12/2020).

Tampa hadir di studio 2 Front TV, selain Habib Rizieq dan menantunya juga tampak sejumlah tokoh diantaranya Ketua PA 212 Slamet Ma’arif, Pengamat Politik Rocky Gerung, Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, hingga Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

Lebih lanjut Habib Rizieq menyampaikan perlunya dialog disertai kritik demi perbaikan. “Kita ahlussunah wal jamaah, kita selalu membuka diri, kita saling dialog, rekonsiliasi. Ayo kita sama-sama, kita saling kritik, kita saling memperbaiki, inilah dakwah, hisbah ‘inda ahlissunati wal jamaah,” ujar Habib Rizieq.

Habib pun mengurai maksud dari revolusi akhlak yang disuarakan selama ini.  Menurutnya, revolusi akhlak sesungguhnya bertujuan untuk melakukan perbaikan secara cepat demi kemajuan bangsa dan negara.

“Saya ingin ingatkan, bahwa kalau kita bicara tentang revolusi, revolusi itu kan perubahan cepat, lho kenapa harus cepat? Karena kalau ditunda-tunda ini membahayakan persatuan dan kesatuan NKRI. Mana yang harus segera diperbaiki, segera perbaiki. Itu namanya revolusi. Apalagi ada tambahan kata akhlak, revolusi akhlak,” terangnya.

Untuk itu, Habib Rizieq pun mengajak semua pihak untuk menyudahi kegaduhan yang terjadi di Indonesia.

Ia berharap ada dialog yang sehat antar semua komponen bangsa untuk kebaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).   “Saya minta kepada semua pihak, setop sudah kegaduhan ini. Mau sampai kapan kita terus bergaduh?” kata Habib Rizieq.

Habib Rizie mengimbau seluruh elemen bangsa untuk memperbanyak ruang diskusi dengan perang argumentasi dengan sehat. “Jadi, tidak ada lagi tuh rekayasa-rekayasa tatanan kehidupan demokrasi Indonesia, tatanan penegakan hukum di Indonesia, tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi setop kegaduhan ini, setop ketidakadilan, dan setop kezaliman,” pungkasnya. (wan)