Tue. Aug 9th, 2022

Rusia dan China ‘Serang’ KTT Demokrasi AS

Porosberita.com, Jakarta – Diplomat China dan Rusia secara bersamaan menyerang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang demokrasi yang digelar Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden secara virtual. China dan Rusia diketahui dikecualikan dalam ajang yang rencananya digelar 9-10 Desember mendatang.

Pernyataan bersama itu dibuat dalam artikel oleh Duta Besar China Win Gang dan Duta besar Rusia Anatoly Antonov. Keduanya menyebut rencana AS itu sebagai sebuah, “produk nyata dari mentalitas Perang Dingin.”

Kritik terhadap Negara Paman SAM itu dilayangkan dua duta besar untuk AS itu lewat artikel di jurnal daring konservatif, National Journal.

Mereka menyatakan kegiatan yang diinisiasi Biden itu akan “memicu konfrontasi ideologis dan keretakan di dunia, menciptakan sebuah garis perpecahan baru.”

KTT itu sejatinya untuk memenuhi janji kampanye Biden memajukan demokrasi global. Namun, saat Departemen Luar Negeri AS merilis daftar 100 negara yang diundang, Rusia dan China tak ada di sana.

Tentu saja Rusia dan China pun berang. Khusus China, kemarahan itu bertambah dengan masuknya Taiwan ke dalam daftar 100 negara yang diundang AS.

Dua duta besar untuk Amerika Serikat itu mengatakan demokrasi “dapat diwujudkan dalam berbagai cara, dan tidak ada model yang cocok untuk semua negara.”

“Tidak ada negara yang berhak menilai lanskap politik dunia yang luas dan beragam dengan satu tolok ukur,” tambah para diplomat itu.

Diplomat China dan Rusia pun memamerkan demokrasi yang ditampilkan di negara masing-masing itu adalah sesuai dengan karakter bangsanya.

Kemudian, tanpa menyebut AS secara lugas, para diplomat itu menyatakan perang dan konflik yang diluncurkan atas nama demokrasi tak bisa dibenarkan, apalagi bila mengganggu kondisi internal negara lain.

“Mengebom Yugsolavia, intervensi militer di di Irak, Afghanistan, dan Libia, serta ‘transformasi demokrasi’ yang tak melakukan apapun kecuali melukai,” tulis mereka.

“Masing-masing negara seharusnya fokus menjalani hubungan dalam negeri mereka dengan baik, tanpa perlu merendahkan yang lainnya.” (CNN Indonesia.com/nto)