🔴 Breaking
Ekonomi

--- Bahlil Mengungkap Alasan Harga Pertamax Belum Turun ---

--- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa penurunan harga Pertamax tidak dapat terjadi secara instan meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan, dengan jeda waktu sekitar dua pekan. --...

Sabina Almira

Penulis

12 October 2026
5 kali dibaca
Bahlil dalam acara Bicara Bersama Retno Pinasti.
Bahlil dalam acara Bicara Bersama Retno Pinasti.
---TITLEEXCERPT--- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa penurunan harga Pertamax tidak dapat terjadi secara instan meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan, dengan jeda waktu sekitar dua pekan. ---CONTENT---

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan penjelasan terkait pertanyaan masyarakat mengenai kemungkinan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax. Ia menegaskan bahwa fluktuasi harga BBM non-subsidi sangat dipengaruhi oleh perubahan harga minyak dunia yang seringkali tidak stabil.

Bahlil mengibaratkan pergerakan harga minyak mentah dunia seperti seseorang yang mengalami sakit malaria, di mana harga dapat berubah dengan cepat, berkisar antara US$ 90 hingga US$ 106 per barel. Ia menjelaskan bahwa BBM jenis RON 92, 95, dan 98 diperuntukkan bagi masyarakat yang mampu, sehingga harga ditentukan oleh mekanisme pasar. "Enggak mungkin kita mau subsidi orang yang mampu. Orang yang seperti saya, orang yang seperti pengusaha. Masa minyak mau pakai BBM RON 95, 98, mau disubsidi oleh negara? Karena itu kita impor. Saya itu hanya bisa menjaga BBM yang bersubsidi untuk saudara-saudara kita yang menengah ke bawah," ujar Bahlil dalam acara Bicara Bersama Retno Pinasti pada Minggu (11/10/2026).

Tantangan Stabilitas Harga BBM Bersubsidi

Mengenai BBM bersubsidi, Bahlil mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi pemerintah dalam menjaga kestabilan harga. Dalam asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, harga minyak dipatok di kisaran US$ 70 per barel. Namun, realisasi harga rata-rata sejak awal tahun hingga saat ini telah meningkat antara US$ 90 hingga US$ 92 per barel, bahkan sempat mencapai angka yang lebih tinggi.

Walaupun beberapa pakar dan mantan pejabat menyarankan agar harga BBM bersubsidi disesuaikan dengan harga pasar untuk mengurangi beban APBN, Bahlil menolak keras usulan tersebut demi melindungi masyarakat yang kurang mampu. "Saya kan mantan orang miskin, yang pernah tahu sakitnya, gak mungkin saya akan membuat kebijakan itu selama masih bisa kita tahan," tegasnya.

Proses Penyesuaian Harga

Menjawab pertanyaan mengenai kecepatan penyesuaian harga saat harga minyak dunia turun, Bahlil menjelaskan adanya jeda waktu teknis dalam rantai pasok. Ia menyatakan bahwa ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan atau penurunan, perubahan harga di stasiun pengisian bahan bakar tidak akan langsung terjadi pada hari yang sama, melainkan memerlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu. Ia mengajak publik untuk bersikap bijak dan memahami proses tersebut secara menyeluruh, mengingat saat harga minyak dunia meningkat pun, pemerintah dan penyedia layanan tidak segera menaikkan harga di SPBU pada hari yang sama.

Artikel Terkait