🔴 Breaking
Kesehatan

Kronologi Penemuan 'Pasien Nol' dalam Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius

Wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius menarik perhatian internasional setelah terungkapnya identitas 'pasien nol', Leo Schilperoord, yang diduga menjadi sumber infeksi.

Fayra Nugroho

Penulis

12 May 2026
9 kali dibaca
Kronologi Penemuan 'Pasien Nol' dalam Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius
Foto: REUTERS/Hannah McKay

Wabah hantavirus yang berbahaya di kapal pesiar MV Hondius telah menjadi sorotan di berbagai negara. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana virus ini dapat menginfeksi penumpang kapal. Identitas seorang pria bernama Leo Schilperoord, yang diduga sebagai 'pasien nol', akhirnya terungkap. Leo, warga Haulerwijk, Belanda, mengalami sakit saat pelayaran di Atlantik Selatan pada bulan April 2026.

Perjalanan Leo dan Istrinya

Leo Schilperoord, yang berusia 70 tahun, merupakan seorang ornitolog yang ahli dalam studi burung. Bersama istrinya, Mirjam Schilperoord, yang berusia 69 tahun, mereka dikenal sebagai pengamat burung yang berpengalaman. Sebelum menaiki kapal MV Hondius pada tanggal 1 April 2026, pasangan ini telah melakukan perjalanan selama berbulan-bulan ke berbagai lokasi di Amerika Selatan, termasuk Argentina, Chile, dan Uruguay.

Kasus Leo kini menjadi fokus perhatian otoritas kesehatan global yang sedang menyelidiki bagaimana virus Andes hantavirus, yang merupakan jenis langka yang dapat menular antar manusia, menyebar di antara penumpang kapal hingga lintas negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi pasangan Schilperoord sebagai kasus pertama dalam wabah di kapal pesiar tersebut. Leo dikategorikan sebagai 'kasus probable' sementara infeksi Mirjam telah terkonfirmasi melalui tes PCR.

Penyelidikan dan Dugaan Penularan

WHO berkoordinasi dengan otoritas kesehatan di Argentina dan Chile untuk menyelidiki asal mula wabah ini. Argentina menjadi salah satu fokus karena baru-baru ini mengalami peningkatan kasus hantavirus. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa pasangan tersebut mungkin terpapar virus saat melakukan aktivitas pengamatan burung, yang kemungkinan terjadi di lokasi pembuangan sampah di luar Ushuaia, Patagonia. Tempat tersebut dikenal sebagai salah satu lokasi favorit bagi pengamat burung untuk melihat spesies langka seperti Caracara Darwin, namun juga diduga menjadi habitat bagi hewan pengerat yang membawa virus Andes hantavirus.

WHO menyebutkan, "Kemungkinan terpapar hewan pengerat selama kegiatan pengamatan burung," dalam laporannya. Virus ini biasanya menyebar melalui partikel dari urine atau kotoran tikus yang terhirup oleh manusia.

Leo mulai menunjukkan gejala pada tanggal 6 April, kurang dari seminggu setelah pelayaran dimulai. Ia mengalami demam, sakit kepala, dan gangguan pencernaan sebelum akhirnya meninggal dunia di atas kapal pada tanggal 11 April. Saat itu, hantavirus belum dicurigai karena gejalanya mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa kematian Leo awalnya tidak dapat dijelaskan dan tidak ada sampel yang diambil pada saat itu.

Sementara itu, Mirjam tetap berada di kapal hingga turun di Saint Helena pada tanggal 24 April dengan keluhan gangguan pencernaan. WHO melaporkan, "Kondisinya kemudian memburuk dalam penerbangan ke Johannesburg, Afrika Selatan, pada tanggal 25 April," dan ia meninggal pada tanggal 26 April di sebuah klinik di Johannesburg. Pasangan ini kini diyakini sebagai kasus paling awal dalam kluster wabah di kapal pesiar MV Hondius.

Penularan Virus Andes Hantavirus

Wabah di MV Hondius melibatkan virus Andes hantavirus, yang merupakan jenis langka yang diketahui dapat menular antar manusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan. Hal ini berbeda dari kebanyakan jenis hantavirus lainnya yang umumnya hanya menular dari hewan pengerat ke manusia. Munculnya wabah di kapal pesiar ini memicu otoritas kesehatan di berbagai negara untuk melakukan pelacakan kontak secara internasional. Sejumlah penumpang dari Amerika Serikat dan Eropa yang telah kembali ke negara masing-masing kini masih dipantau untuk mendeteksi kemungkinan gejala infeksi lebih lanjut.

Artikel Terkait