🔴 Breaking
Teknologi

Iran Melihat Potensi Ekonomi dari Kabel Internet di Selat Hormuz

Selat Hormuz, yang selama ini dikenal sebagai jalur distribusi minyak, kini dipandang Iran sebagai peluang untuk menghasilkan pendapatan dari kabel internet bawah laut yang melintasinya.

Raihan Fadhila

Penulis

12 May 2026
8 kali dibaca
Iran Melihat Potensi Ekonomi dari Kabel Internet di Selat Hormuz
tekno.kompas.com

Selat Hormuz, yang terkenal sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, kini mulai dilihat oleh Iran sebagai potensi baru dalam bidang digital. Media Tasnim, yang memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menyerukan agar Iran memanfaatkan kabel fiber optik bawah laut yang melintasi selat tersebut untuk menghasilkan pendapatan.

Terdapat setidaknya tujuh kabel internet bawah laut internasional yang melewati Selat Hormuz, yang berfungsi sebagai jalur penting untuk koneksi data antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa, termasuk untuk pusat data cloud dan layanan internet global. Tasnim melaporkan bahwa lebih dari 10 triliun dolar AS transaksi finansial global berlangsung setiap hari melalui kabel-kabel ini.

Langkah-Langkah Strategis untuk Memanfaatkan Kabel Internet

Meski demikian, Iran merasa tidak mendapatkan manfaat ekonomi yang seharusnya dari infrastruktur digital ini, karena Selat Hormuz masih dianggap sebagai jalur tradisional untuk kapal dan minyak. Dalam artikelnya berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Tasnim mendorong pemerintah Iran untuk mengambil tiga langkah utama.

Langkah pertama adalah mengenakan biaya lisensi awal dan biaya pembaruan tahunan kepada perusahaan asing yang menggunakan kabel tersebut. Kedua, perusahaan teknologi besar yang memanfaatkan kabel, seperti Meta, Amazon, dan Microsoft, diharuskan untuk mematuhi hukum Iran. Ketiga, perusahaan Iran harus diberikan kontrol eksklusif untuk pemeliharaan dan perbaikan kabel bawah laut.

Peluang dan Tantangan di Selat Hormuz

Outlet media Fars, yang juga terafiliasi dengan IRGC, melaporkan hal yang serupa, menyebut Selat Hormuz sebagai “jalan tol digital tersembunyi” yang dapat menjadi alat kekuatan baru bagi Iran. Dalam proposal yang diajukan, perusahaan asing nantinya diwajibkan untuk meminta izin dan membayar biaya transit untuk kabel internet yang melintasi kawasan tersebut. Jika Iran menerapkan kontrol atau pungutan baru, terdapat kekhawatiran bahwa hal ini dapat berdampak luas pada sistem keuangan global, layanan cloud, dan operasional perusahaan teknologi besar.

Seruan untuk mengenakan "pajak" pada kabel internet bawah laut di Selat Hormuz tampaknya terinspirasi oleh praktik yang dilakukan Mesir, yang memungut biaya transit untuk kabel internet yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania. Perusahaan milik negara Telecom Egypt terlibat dalam bisnis kabel dan menarik biaya transit dari operator global.

Selat Hormuz sendiri merupakan perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, dengan lebar sekitar 33 kilometer di titik tersempit. Meskipun tidak memiliki kendali penuh atas selat, Iran memiliki posisi strategis yang signifikan, menguasai garis pantai utara dan sejumlah pulau penting di dekat jalur pelayaran. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati perairan ini, menjadikannya jalur vital bagi perdagangan internasional.

Dalam situasi tegang, Iran dapat memantau dan berpotensi mengganggu lalu lintas kapal di selat tersebut, meskipun penutupan total akan melanggar hukum internasional dan berdampak besar pada ekonomi kawasan.

Artikel Terkait