Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berlangsung di Indonesia kembali menyoroti dampak serius dari asap terhadap kesehatan masyarakat. Prof. Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengingatkan bahwa dampak kesehatan akibat asap karhutla telah diteliti sejak lama, namun masalah ini masih berulang hingga saat ini.
Dalam penelitiannya yang diterbitkan pada tahun 2000 dalam jurnal internasional Respirology dengan judul "Impact of Haze from Forest Fire to Respiratory Health: Indonesian Experience", Tjandra mengacu pada kebakaran hutan besar yang terjadi pada tahun 1997-1998 yang melanda wilayah Sumatra dan Kalimantan. Penelitian tersebut mencakup data dari enam provinsi di Sumatra dan empat provinsi di Kalimantan, dan pernah dipresentasikan dalam Kongres Asia Pacific Society of Respirology (APSR) di Yokohama, Jepang.
Analisis Dampak Kesehatan
“Yang saya analisa dalam penelitian ini adalah angka jumlah kematian serta kejadian penyakit asma, bronkitis dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Juga dilaporkan data tentang jumlah pasien rawat jalan, rawat inap dan juga hilangnya hari kerja,” ungkap Tjandra di Jakarta. Selain itu, penelitian tersebut juga mencatat keluhan yang dialami oleh dokter yang terpapar asap kebakaran hutan selama 10 hingga 12 jam, termasuk batuk, iritasi tenggorokan, sakit kepala, iritasi mata, dan keringat dingin.
Tjandra menekankan bahwa hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya dampak signifikan dari asap kebakaran hutan terhadap peningkatan gangguan pernapasan, fungsi paru, serta keluhan kesehatan lainnya. Ia juga menyoroti bahwa kebakaran hutan berskala besar bukanlah fenomena baru di Indonesia, mencatat bahwa kejadian kebakaran hutan telah terjadi sejak sekitar tahun 1982, dan kembali terjadi pada tahun 1994 dan 1997.
Pentingnya Penanganan Kesehatan Masyarakat
Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa dampak kesehatan akibat asap karhutla telah menjadi masalah yang berulang. Oleh karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mencakup upaya perlindungan kesehatan masyarakat sebelum, selama, dan setelah bencana. “Dalam tulisan ilmiah ini saya bahas juga tentang kegiatan/ program apa yang perlu dilakukan, yang dibagi tiga fase, yaitu sebelum terjadi kebakaran hutan (‘pre-disaster’), ketika terjadi kebakaran hutan (‘disaster’) dan sesudah kebakaran hutan (‘post-disaster’). Tentu baiknya program dan kegiatan ini dapat juga dilakukan di masa sekarang ini,” jelas Tjandra.
Menurut Tjandra, pembagian tersebut menempatkan kesiapsiagaan sebagai bagian penting dalam penanganan karhutla, bukan hanya sebagai respons ketika asap sudah menyebar dan masyarakat mulai mengalami gangguan kesehatan. Ia menilai bahwa program yang dibahas dalam penelitiannya masih relevan untuk diterapkan dalam penanganan karhutla saat ini. “Publikasi ilmiah saya di tahun 2000 ini menunjukkan bahwa walaupun sudah seperempat abad berlalu tapi sampai sekarang kita masih menghadapi masalah kesehatan akibat asap kebakaran hutan ini. Kita belum dapat belajar dari pengalaman yang ada,” pungkas Tjandra.