Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau pada bulan September 2026 telah mengganggu operasional penerbangan di seluruh Indonesia. Sebanyak delapan bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, terpaksa ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Dalam situasi ini, pemerintah bersama pemangku kepentingan berhasil menangani sekitar 300 ribu penumpang yang terdampak melalui koordinasi tanggap darurat yang terintegrasi.
Pentingnya Kesiapsiagaan Transportasi
Gangguan penerbangan yang disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa sistem transportasi nasional harus selalu siap menghadapi keadaan darurat yang mungkin terjadi kapan saja. Dudy Purwagandhi menilai pengalaman ini harus dijadikan pelajaran untuk memperkuat koordinasi dan prosedur tanggap darurat. Dampak dari erupsi dan penyebaran abu vulkanik membuat beberapa bandara ditutup sementara, yang berdampak pada sekitar 300 ribu penumpang, termasuk 30 ribu penumpang di Bandara Soekarno-Hatta yang memerlukan penanganan layanan secara terpadu.
"Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kerja sama yang sangat baik dari semua pihak dalam mengatasi dampak dari letusan Gunung Anak Krakatau dan ini menjadi pelajaran buat kita," ungkap Dudy.
Langkah Mitigasi Melalui Penutupan Bandara
Salah satu langkah yang diambil saat itu adalah penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta. Kebijakan ini diambil untuk memastikan bahwa penerbangan tidak membahayakan penumpang dan awak pesawat selama kondisi belum dinyatakan aman. Gangguan operasional tersebut membuat banyak penumpang terjebak di bandara. Pengelola bandara, penyelenggara navigasi penerbangan, maskapai, dan operator terkait berkoordinasi untuk menangani penumpang sekaligus menjaga prosedur keselamatan.
Dudy menyatakan bahwa kerja sama yang baik antara semua pihak membantu mengatasi situasi tersebut hingga Bandara Soekarno-Hatta dapat dibuka kembali tanpa menimbulkan insiden yang tidak diinginkan. "Kita bisa mengatasi sesuatu yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, dan alhamdulillah berkat kerjasama yang sangat baik dari semua pihak sekian puluh ribu penumpang bisa teratasi dengan baik. Kemudian juga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sampai dengan kita membuka kembali bandara Soekarno-Hatta," tambahnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Achmad Setiyo Prabowo, sebelumnya menyebutkan bahwa penanganan abu vulkanik akibat erupsi GAK pada 5–8 September 2026 berdampak pada operasional sejumlah bandara. Delapan bandara yang sempat ditutup sementara meliputi: Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Bandara Budiarto di Curug, Tangerang, Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Bandara Taufik Kiemas di Pesisir Barat, Lampung, dan Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Achmad menekankan bahwa koordinasi antar pihak menjadi kunci agar layanan penerbangan tetap terkendali saat menghadapi keadaan darurat.