Lansia di Amerika Serikat, khususnya mereka yang berusia 75 tahun ke atas, mengalami lonjakan median kekayaan bersih sebesar 37% antara tahun 2022 hingga 2025. Menurut survei yang dilakukan oleh Federal Reserve, kekayaan bersih kelompok ini diperkirakan mencapai sekitar US$ 505.000 atau setara dengan Rp 9 miliar pada tahun 2025, meningkat dari US$ 367.000 atau Rp 6,5 miliar pada tahun 2022.
Kenaikan yang Didorong oleh Pasar Saham
Kepala Ekonom Moody's, Mark Zandi, menyatakan bahwa "Generasi baby boomers telah tiba!" Ia menjelaskan bahwa anggota tertua dari generasi ini kini memasuki kelompok usia 75 tahun ke atas. Kenaikan nilai pasar saham memberikan keuntungan bagi mereka, mengingat sebagian besar kekayaan mereka tersimpan dalam rekening pensiun.
Sementara itu, median kekayaan bersih untuk seluruh keluarga di AS hanya mengalami peningkatan sebesar 2%, menjadi US$ 215.900 atau Rp 3,8 miliar dalam periode yang sama setelah disesuaikan dengan inflasi. Berbeda dengan itu, keluarga yang dipimpin oleh kepala rumah tangga berusia di bawah 35 tahun justru mengalami penurunan median kekayaan bersih sebesar 23%, yang kini berada di angka US$ 33.000 atau Rp 592 juta.
Aset yang Dikuasai Lansia Meningkat
Peningkatan kekayaan di kalangan lansia didukung oleh kepemilikan aset yang telah mereka kumpulkan selama bertahun-tahun, termasuk saham dan properti. Indeks S&P 500 mencatat total imbal hasil sekitar 52,41% dari awal tahun 2022 hingga akhir 2025, termasuk dividen yang diinvestasikan kembali. Selain itu, nilai kepemilikan rumah juga menunjukkan peningkatan, di mana median nilai bersih rumah setelah dikurangi utang naik dari US$ 218.900 atau Rp 3,9 miliar pada 2022 menjadi US$ 230.000 atau Rp 4,1 miliar pada 2025.
Beberapa lansia juga diuntungkan oleh suku bunga yang lebih tinggi melalui deposito dan instrumen keuangan berbunga. Manfaat Social Security atau jaminan sosial juga berkontribusi pada kondisi keuangan kelompok lansia, di mana data dari Administrasi Jaminan Sosial AS menunjukkan bahwa manfaat ini meningkat secara kumulatif sekitar 35,5% selama satu dekade hingga 2025 melalui penyesuaian biaya hidup tahunan.
Namun, tidak semua lansia merasakan peningkatan kekayaan ini. Analisis dari AARP Foundation berdasarkan data sensus menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di kalangan penduduk AS yang berusia 65 tahun ke atas meningkat sekitar 45% sejak tahun 2019. Sekitar 10 juta lansia kini hidup dalam kondisi miskin, meningkat dari 5,1 juta tujuh tahun lalu.
Presiden AARP Foundation, Claire Casey, mengungkapkan bahwa tren ini sangat mengkhawatirkan, terutama karena kelompok usia lainnya tidak mengalami pola peningkatan kemiskinan yang serupa. Beberapa faktor seperti biaya layanan kesehatan, inflasi, perawatan jangka panjang, serta utang menjadi tantangan besar bagi lansia untuk menabung dan menjaga kondisi keuangan mereka.