Dunia teknologi saat ini menghadapi tantangan besar terkait krisis memori komputer atau random access memory (RAM). Lip-Bu Tan, yang menjabat sebagai CEO Intel, mengungkapkan bahwa fenomena yang disebut RAMmageddon ini diprediksi akan berlanjut hingga tahun 2029. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Asia Future Forward Conference yang berlangsung di Singapura pada hari Senin, 12 Oktober 2026.
Dalam sesi yang disaksikan oleh seorang pebisnis di platform X (sebelumnya Twitter) dengan akun @theresa_perrin, Tan memperkirakan bahwa krisis pasokan perangkat keras untuk kecerdasan buatan (AI) akan terus berlanjut selama dua hingga tiga tahun ke depan. Perangkat keras yang dimaksud mencakup pengolah grafis (GPU), prosesor (CPU), dan RAM. Menurut Tan, keterbatasan pasokan perangkat keras AI ini disebabkan oleh berbagai kendala dan masalah yang berkepanjangan dalam rantai pasokan teknologi.
Ketimpangan Pasokan dan Permintaan
Tan tidak menyebutkan secara spesifik kapan krisis RAM akan berakhir pada tahun 2029. Sebagai CEO Intel sejak Maret 2025, ia juga tidak memberikan rincian mengenai solusi untuk mengatasi masalah pasokan tersebut. Pandangan Tan sejalan dengan CEO Broadcom, Hock Tan, yang juga berbicara mengenai ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan infrastruktur AI. Dalam kesempatan yang sama, Hock Tan menyatakan bahwa permintaan untuk infrastruktur komputasi AI saat ini melebihi kapasitas yang tersedia, dan ketidakseimbangan ini diperkirakan akan bertahan hingga 2029, bahkan mungkin sampai 2030.
Hock Tan juga memperkirakan bahwa kelangkaan wafer, yang merupakan bahan dasar untuk chip semikonduktor, dapat mereda pada tahun 2028 atau 2029. Meskipun demikian, hal ini tidak menjamin bahwa semua komponen untuk infrastruktur AI akan tersedia dalam jumlah yang cukup pada waktu yang sama.
Kenaikan Harga RAM di Pasar
Menurut laporan dari perusahaan jasa keuangan Barclays, pasokan RAM dari produsen memori seperti Micron diperkirakan masih akan terbatas hingga tahun 2028. Laporan tersebut juga mencatat bahwa harga kontrak RAM DDR4 telah meningkat sebesar 24 persen dalam tiga bulan terakhir, sedangkan harga kontrak DDR5 naik sebesar 20 persen pada periode yang sama. Harga kontrak ini merupakan kesepakatan antara produsen dan pembeli, dan kenaikan harga ini dapat berdampak pada harga jual RAM di pasar konsumen, meskipun besaran perubahan dapat bervariasi di setiap wilayah.
Krisis RAM ini berkaitan erat dengan meningkatnya kebutuhan memori untuk mendukung pusat data AI. Infrastruktur ini memerlukan kapasitas komputasi dan memori yang besar untuk menjalankan model AI. Salah satu jenis memori yang sangat dibutuhkan adalah high-bandwidth memory (HBM), yang dirancang untuk memberikan bandwidth tinggi bagi prosesor AI. Dalam situasi permintaan yang tinggi ini, produsen seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron menghadapi tantangan untuk meningkatkan produksi HBM.
Pergeseran kapasitas produksi menuju memori untuk AI dapat membatasi kemampuan produsen dalam memenuhi permintaan DRAM konvensional yang digunakan di PC dan laptop. Akibatnya, pasokan RAM untuk konsumen berpotensi menjadi semakin ketat. Ketika permintaan melebihi pasokan, harga komponen cenderung meningkat, yang akan dirasakan oleh konsumen yang ingin merakit PC, meningkatkan kapasitas RAM, atau membeli perangkat baru.