Laporan terkini dari United Nations Development Programme (UNDP) menunjukkan bahwa 617 juta anak di bawah usia 18 tahun terjebak dalam kemiskinan multidimensi. Hal ini menyoroti beban berat yang harus ditanggung oleh anak-anak akibat keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, gizi, dan tempat tinggal yang layak.
Dalam laporan Global Multidimensional Poverty Index (MPI) 2026: Statistical Update yang disusun oleh UNDP bekerja sama dengan Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) dari Universitas Oxford, ditemukan bahwa angka tersebut setara dengan 51,5% dari total 1,2 miliar individu yang hidup dalam kemiskinan multidimensi di 108 negara yang diteliti. Ini berarti lebih dari separuh dari populasi miskin di dunia saat ini adalah anak-anak.
Analisis Kemiskinan Anak
Riset ini memperkirakan bahwa satu dari tiga anak mengalami kemiskinan multidimensi, sedangkan pada kelompok dewasa, rasio tersebut jauh lebih rendah, yakni satu dari tujuh orang. "Perbedaan ini memperlihatkan bahwa usia menjadi faktor penting untuk memahami siapa yang paling rentan menghadapi krisis kebutuhan dasar," tulis laporan resmi UNDP dan Oxford.
Kemiskinan yang dialami oleh anak-anak tidak hanya diukur dari rendahnya pendapatan orang tua, tetapi juga dari berbagai indikator kualitas hidup rumah tangga. Indikator tersebut meliputi gizi, angka kematian anak, partisipasi dalam pendidikan, sanitasi, akses listrik, air bersih, dan kelayakan hunian. Jika sebuah keluarga tidak memiliki akses terhadap listrik atau air bersih, maka anak-anak di dalam keluarga tersebut akan merasakan dampaknya. Begitu pula jika anggota keluarga tidak pernah mendapatkan pendidikan dasar atau anak-anak yang terpaksa putus sekolah.
"Lebih dari separuh atau 51,5% dari seluruh penduduk miskin adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun,” tegas UNDP. Temuan ini menegaskan bahwa untuk mengatasi kemiskinan, tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan tunai. Pemerintah perlu memastikan akses langsung bagi anak-anak terhadap gizi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan yang sehat.
Krisis Kemiskinan di Berbagai Wilayah
Dari segi geografis, Afrika Sub-Sahara merupakan kawasan dengan krisis kemiskinan anak terbesar di dunia, dengan 355 juta anak yang hidup dalam kemiskinan multidimensi, atau 57,7% dari total populasi miskin di wilayah tersebut. Masalah utama di kawasan ini adalah kurangnya infrastruktur dasar seperti listrik, air bersih, dan bahan bakar memasak yang layak.
Asia Selatan berada di urutan kedua dengan 181 juta anak yang hidup dalam kemiskinan multidimensi, yang merupakan 46,1% dari total populasi miskin di daerah tersebut. Berbeda dengan Afrika, penyebab utama kemiskinan di Asia Selatan lebih berfokus pada masalah gizi buruk, kualitas hunian yang rendah, serta tingginya angka anak putus sekolah. Perbedaan pola ini menunjukkan bahwa solusi untuk mengatasi kemiskinan anak harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah, bukan menggunakan pendekatan yang sama untuk semua.
Meskipun situasinya sangat sulit, laporan ini juga menyampaikan kabar baik. Data menunjukkan bahwa kemiskinan di kalangan anak-anak dapat dikurangi lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa jika intervensi dilakukan dengan tepat. Dari 102 periode pengamatan negara yang berhasil menurunkan angka MPI, 84 periode di 61 negara menunjukkan penurunan kemiskinan anak yang lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. "Nilai MPI anak-anak turun lebih cepat daripada nilai MPI orang dewasa dalam 84 periode," sebut UNDP.
Namun, tren positif ini belum merata. Terdapat kasus di mana kemiskinan orang dewasa membaik, tetapi kondisi anak-anak justru stagnan. Ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk selalu memisahkan data kemiskinan berdasarkan kelompok usia agar anak-anak tidak terabaikan.
Target utama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) adalah mengurangi kemiskinan multidimensi hingga setengahnya pada tahun 2030. Laporan UNDP dan OPHI mencatat bahwa sudah ada 33 negara yang berhasil memangkas separuh nilai MPI mereka dalam waktu kurang dari 15 tahun. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan dalam skala besar sangat mungkin dicapai, dengan kuncinya terletak pada pemanfaatan data yang terperinci hingga tingkat daerah agar bantuan dan program perbaikan layanan publik dapat menyasar kelompok anak yang paling membutuhkan.