🔴 Breaking
Maraknya Impor Pakaian Bekas Ilegal, Bea Cukai Berkomitmen Tingkatkan Pengawasan Penyelundupan Beras Ilegal Ancam Swasembada Pangan Indonesia Prabowo Ajak Perkuat Industri Tekstil, Bea Cukai Diminta Tertibkan Impor Inisiatif Prabowo untuk Mengatasi Karhutla: Terorisme Ekologi atau Gimik Politik? Pakar Diminta Menilai Kebijakan Pemerintah Secara Objektif oleh Menteri HAM Penyebab Keracunan Massal di Kediri Terungkap, Ditemukan Bakteri E. Coli dalam Makanan UIN Saizu Mengumumkan Pemenang Business Case dan Karya Tulis Ilmiah KSEI YIF 5.0 2026 --- Rupiah Melemah ke Level 17.884, Dipengaruhi Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed --- Pernyataan Kontroversial Terhadap Shin Tae-yong, Apa yang Mendorong Agresi di Tengah Tekanan? Pengalaman Seru Siswa SMPII Al Abidin Karanganyar dalam Belajar Demokrasi di DPRD Maraknya Impor Pakaian Bekas Ilegal, Bea Cukai Berkomitmen Tingkatkan Pengawasan Penyelundupan Beras Ilegal Ancam Swasembada Pangan Indonesia Prabowo Ajak Perkuat Industri Tekstil, Bea Cukai Diminta Tertibkan Impor Inisiatif Prabowo untuk Mengatasi Karhutla: Terorisme Ekologi atau Gimik Politik? Pakar Diminta Menilai Kebijakan Pemerintah Secara Objektif oleh Menteri HAM Penyebab Keracunan Massal di Kediri Terungkap, Ditemukan Bakteri E. Coli dalam Makanan UIN Saizu Mengumumkan Pemenang Business Case dan Karya Tulis Ilmiah KSEI YIF 5.0 2026 --- Rupiah Melemah ke Level 17.884, Dipengaruhi Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed --- Pernyataan Kontroversial Terhadap Shin Tae-yong, Apa yang Mendorong Agresi di Tengah Tekanan? Pengalaman Seru Siswa SMPII Al Abidin Karanganyar dalam Belajar Demokrasi di DPRD
Nasional

Pakar Diminta Menilai Kebijakan Pemerintah Secara Objektif oleh Menteri HAM

Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, menyerukan para pakar untuk memberikan penilaian yang objektif terhadap kebijakan pemerintah. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kritik Presiden Prabowo Subianto mengenai kelompok yang dianggap membungkam kebenaran.

Fehardian Rahaja

Penulis

22 September 2026
5 kali dibaca
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai meminta para pakar menilai kebijakan pemerintah secara objektif.
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai meminta para pakar menilai kebijakan pemerintah secara objektif.

Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mengajak para pakar dan pengamat untuk memberikan penilaian yang lebih objektif terhadap kebijakan pemerintah. Dalam pernyataannya, Pigai menekankan bahwa meskipun kritik terhadap kekurangan pemerintah sangat diperlukan, hal tersebut tidak boleh mengabaikan capaian dan manfaat dari program-program yang dirasakan oleh masyarakat.

Pigai menegaskan bahwa masukan serta evaluasi yang tajam terhadap pelaksanaan kebijakan adalah bagian yang sah dalam sebuah sistem demokrasi. Namun, penting untuk memberikan penilaian yang adil dan seimbang agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh. "Jadi, para pakar itu jangan meniadakan kebaikan-kebaikan pemerintah. Harus juga mengucapkan kebaikan-kebaikan pemerintah. Baru kalau ada sisi manajemen yang kurang, dikritisi, tidak masalah," ungkap Pigai di Jakarta pada Selasa, 22 September 2026.

Kritik dan Tuntutan Mundur

Pigai juga menyatakan bahwa ia tidak keberatan jika kritik yang dilontarkan berujung pada tuntutan untuk mundur dari jabatannya, asalkan penilaian tersebut dilakukan secara objektif. "Sampai disuruh menterinya turun, tidak apa-apa. Saya disuruh turun juga tidak masalah. Tapi tolong dinilai, kebaikan-kebaikan itu harus dikedepankan. Itulah yang namanya pakar yang objektif," tambahnya.

Respon Terhadap Kritik Prabowo dan Mahfud MD

Pernyataan Pigai ini muncul sebagai tanggapan terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto dan Mantan Menko Polhukam Mahfud MD. Dalam pidato pada HUT Ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta pada 18 September, Prabowo mengkritik kelompok pakar yang dianggapnya sering menyebarkan fitnah. Ia menekankan pentingnya kejujuran intelektual dan mengungkapkan bahwa "saking pintarnya jadi goblok".

Menanggapi hal tersebut, Mahfud MD mengakui bahwa ada beberapa pakar atau profesor yang tidak memenuhi standar kepakaran. Namun, ia juga menegaskan bahwa pejabat negara, termasuk presiden, tidak luput dari kekurangan yang sama, meskipun tidak menyebutkan nama secara spesifik.

Pigai kemudian meluruskan bahwa publik tidak seharusnya menggeneralisasi kritik Prabowo kepada semua akademisi atau pakar. Menurutnya, sindiran tersebut lebih ditujukan kepada kelompok yang terlibat dalam ranah pasca-kebenaran. "Ini hanya 'post-truth' aja yang Pak Prabowo bilang. Tidak semua, ya. 'Post-truth', ya. 'Post-truth' itu kan orang yang ramai-ramai membungkam kebenaran, orang yang ramai-ramai mematikan kebenaran, orang yang tidak mau mengakui kebenaran, tapi dia munculkan atau dia menciptakan kebohongan," jelas Pigai. Ia menambahkan bahwa kelompok ini aktif menciptakan narasi yang menutupi kenyataan dan beroperasi di media sosial.

Artikel Terkait