🔴 Breaking
Galon Le Minerale Dapat Penghargaan Excellent dari theAsianparent Awards 2026 Keluarga Miliarder Indonesia Perluas Investasi di Sydney dengan Akuisisi Saham Signifikan Bahaya Penggunaan Baygon pada Ikan Asin yang Dikhawatirkan Menyebabkan Residu Berbahaya Strategi Publikasi Jurnal Scopus Dibagikan Dosen UIN Saizu kepada Mahasiswa Malaysia Luhut Tegaskan Pentingnya Hubungan Baik dengan Singapura Terkait Ekspor Gas Microsoft Tawarkan Program Pensiun Dini untuk 60.000 Karyawan demi Meningkatkan Efisiensi Kontroversi Penyemprotan Baygon pada Ikan Asin, BPOM Ambil Tindakan Pergerakan Harga Emas Perhiasan Hari Ini, 27 Oktober 2026 Keamanan Transaksi dan Legalitas Usaha, Kunci Sukses UMKM di Era Digital Tantangan UMKM di Indonesia: Modal dan Akses Pasar yang Perlu Diperhatikan Galon Le Minerale Dapat Penghargaan Excellent dari theAsianparent Awards 2026 Keluarga Miliarder Indonesia Perluas Investasi di Sydney dengan Akuisisi Saham Signifikan Bahaya Penggunaan Baygon pada Ikan Asin yang Dikhawatirkan Menyebabkan Residu Berbahaya Strategi Publikasi Jurnal Scopus Dibagikan Dosen UIN Saizu kepada Mahasiswa Malaysia Luhut Tegaskan Pentingnya Hubungan Baik dengan Singapura Terkait Ekspor Gas Microsoft Tawarkan Program Pensiun Dini untuk 60.000 Karyawan demi Meningkatkan Efisiensi Kontroversi Penyemprotan Baygon pada Ikan Asin, BPOM Ambil Tindakan Pergerakan Harga Emas Perhiasan Hari Ini, 27 Oktober 2026 Keamanan Transaksi dan Legalitas Usaha, Kunci Sukses UMKM di Era Digital Tantangan UMKM di Indonesia: Modal dan Akses Pasar yang Perlu Diperhatikan
Nasional

Penipuan Berkedok KPK: Polisi Ungkap Kasus Pemerasan Anggota DPR

Seorang pegawai KPK gadungan ditangkap setelah diduga memeras anggota DPR dengan permintaan uang senilai Rp300 juta. Berikut ini kronologi kejadian yang terungkap oleh pihak kepolisian.

Aditya Surya

Penulis

11 April 2026
150 kali dibaca
Penipuan Berkedok KPK: Polisi Ungkap Kasus Pemerasan Anggota DPR
Sumber gambar: news.indozone.id

Kasus penipuan yang melibatkan sosok yang mengaku sebagai pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil diungkap oleh pihak kepolisian. Dalam insiden ini, pelaku diduga melakukan pemerasan terhadap seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan tuntutan uang sebesar Rp300 juta. Kejadian tersebut mengundang perhatian publik karena melibatkan institusi yang berwenang dalam pemberantasan korupsi.

Menurut keterangan pihak kepolisian, pelaku, yang berinisial R, mulai beraksi pada awal bulan ini. R menghubungi anggota DPR melalui telepon dan mengaku memiliki informasi penting terkait kasus yang melibatkan pejabat publik. Dalam pembicaraan itu, R menimbulkan ketakutan dengan menyebutkan bahwa anggota DPR tersebut bisa terjerat masalah hukum jika tidak memenuhi permintaannya. Hal tersebut jelas menjadi awal dari aksi pemerasan yang dilakukan dengan modus yang cukup licik.

Seorang saksi yang juga merupakan rekan kerja anggota DPR tersebut mengungkapkan, "Kami merasa terancam dengan ancaman yang diberikan oleh orang tersebut. Dia berbicara dengan sangat meyakinkan dan seolah-olah memiliki bukti yang kuat." Ketegangan yang dialami membuat anggota DPR merasa terpaksa untuk mempertimbangkan permintaan itu.

Proses pemerasan semakin berkembang ketika R mulai mengatur pertemuan langsung dengan anggota DPR. Dalam pertemuan yang berlangsung di sebuah lokasi yang tidak disebutkan, R menegaskan bahwa uang sebesar Rp300 juta diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang ia ciptakan. Merasa tidak berdaya, anggota DPR tersebut akhirnya melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib, yang segera menindaklanjuti laporan dengan melakukan penyelidikan.

Setelah mendapatkan informasi lengkap dan bukti permulaan, polisi melakukan penangkapan terhadap R di lokasi yang telah disepakati untuk transaksi. "Tindakan cepat ini diambil untuk mencegah kerugian lebih lanjut bagi korban," ungkap seorang petugas kepolisian yang terlibat dalam penangkapan. Dalam penangkapan tersebut, pihak kepolisian juga berhasil menyita sejumlah barang bukti yang mendukung kasus ini.

Kasus ini menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadapmodus-modus penipuan yang semakin canggih, terutama yang berkaitan dengan lembaga negara. Hingga kini, R telah ditetapkan sebagai tersangka dan sedang menjalani proses hukum lebih lanjut. Polisi mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh dan selalu melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima.

Ke depan, pihak kepolisian akan terus mendalami kasus ini untuk mencari kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat atau jaringan yang lebih besar. Penipuan berkedok lembaga resmi seperti KPK merupakan tindakan yang serius dan memerlukan perhatian dari semua pihak untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait