KOMPAS.com - Meskipun telah memiliki pekerjaan dengan gaji tetap, Jonathan Laramy mengambil langkah berani dengan mengundurkan diri untuk fokus membuat video AI. Keputusan yang tampak nekat bagi sebagian orang ini ternyata membuahkan hasil yang luar biasa bagi pria berusia 32 tahun tersebut.
Dalam wawancaranya dengan Business Insider, Laramy mengungkapkan bahwa penghasilannya dari pembuatan video AI kini jauh lebih tinggi dibandingkan ketika ia masih bekerja sebagai customer service. Saat ini, ia mengelola saluran YouTube bernama "Chloe VS History", yang menyajikan konten sejarah dengan pendekatan yang unik melalui karakter AI bernama Chloe.
Konsep Unik dari Chloe VS History
Chloe digambarkan sebagai seorang vlogger modern yang seolah-olah dapat melakukan perjalanan waktu. Ia mengunjungi berbagai peristiwa bersejarah, mulai dari pelayaran perdana Titanic hingga letusan Gunung Vesuvius di Pompeii. Video-video dari Chloe VS History dapat diakses melalui saluran YouTube yang dikelola Laramy.
Menariknya, Laramy tidak memiliki latar belakang di bidang perfilman atau produksi video. Sebelum memulai kariernya sebagai kreator video AI, ia hanya menghabiskan waktu luangnya untuk bereksperimen dengan teknologi tersebut. Ia juga telah memiliki saluran media sosial yang membahas fakta-fakta sejarah, yang menjadi titik awal keinginan untuk mengembangkan ide Chloe VS History.
Proses Produksi yang Menggunakan Teknologi AI
Dalam proses produksinya, Laramy memanfaatkan beberapa model AI, seperti Claude untuk mencari ide dan menyusun naskah, serta Nano Banana Pro dan ChatGPT 2.0 untuk menghasilkan gambar. Gambar-gambar tersebut kemudian diolah menjadi klip video menggunakan Seedance 2.0, dan ia juga menggunakan model suara AI untuk menjaga konsistensi suara Chloe di setiap video. Laramy mengungkapkan bahwa biaya produksi untuk satu video panjang berkisar antara 300 hingga 800 poundsterling (sekitar Rp 7,2 juta hingga Rp 19,2 juta), sehingga meskipun dibantu AI, produksi video ini tidak bisa dianggap murah.
Awalnya, Laramy mengalami kesulitan dalam mendapatkan penghasilan yang signifikan. Ia mencoba mengandalkan platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, namun pendapatannya dari platform-platform tersebut belum mencukupi untuk menjadikannya sebagai pekerjaan utama. Di Instagram, misalnya, ia tidak mendapatkan banyak pendapatan karena platform tersebut tidak membayar berdasarkan jumlah tayangan. Sementara itu, di TikTok, ia belum diterima dalam program Creator Rewards, dan di YouTube, ia juga tidak langsung mendapatkan keuntungan.
Namun, perubahan mulai terjadi ketika Laramy beralih ke pembuatan video berdurasi lebih panjang. Ia mengatakan bahwa video berdurasi 15-20 menit yang ia buat berhasil meningkatkan penghasilannya melebihi gaji yang ia terima saat bekerja sebagai customer service. Meskipun tidak menyebutkan angka pastinya, Laramy merasa keputusan untuk beralih menjadi kreator video AI sangat tepat, karena kini ia dapat meraih penghasilan yang lebih besar.
Laramy juga menekankan bahwa pengalamannya ini bukanlah jaminan bahwa AI adalah "jalan pintas" menuju kesuksesan. Siapa pun dapat memanfaatkan AI untuk menciptakan konten, tetapi kunci keberhasilan terletak pada pemahaman mengenai jenis konten yang diinginkan oleh audiens.