Sebuah laporan mengungkapkan bahwa Samsung kini tidak lagi meraih keuntungan dari setiap smartphone Galaxy yang terjual. Hal ini disebabkan oleh lonjakan harga komponen memori dan semikonduktor yang signifikan. Informasi ini berasal dari seorang sumber anonim di industri teknologi Korea Selatan, sebagaimana dilaporkan oleh media MoneyToday.
Sumber tersebut menyatakan, “Karena kenaikan harga memori dan semikonduktor, smartphone Samsung Electronics saat ini sama sekali tidak menghasilkan keuntungan ketika dijual.” Hingga saat ini, Samsung belum memberikan pernyataan resmi mengenai laporan ini.
Kenaikan Harga Komponen
Kenaikan harga komponen memori dapat dilihat dari data yang dirilis oleh lembaga riset semikonduktor, TrendForce. Pada kuartal kedua tahun fiskal 2026 (Q2 2026), harga DRAM berdaya rendah (LPDDR5X) dengan kapasitas 12 GB untuk smartphone diperkirakan berada di kisaran 145-146 dollar AS (sekitar Rp 2,6 juta), yang menunjukkan kenaikan sebesar 175 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan harga ini dipicu oleh tingginya permintaan memori dari sektor kecerdasan buatan (AI). Diperkirakan pada kuartal ketiga 2026, harga DRAM untuk smartphone akan meningkat sekitar 20 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, bahkan bisa mencapai 180 dollar AS (sekitar Rp 3,2 juta).
Penyesuaian Produksi Smartphone
Sumber anonim tersebut juga menambahkan bahwa Samsung mengambil langkah untuk mengurangi produksi smartphone guna menjaga profitabilitas perusahaan secara keseluruhan. Menurut MoneyToday, divisi Mobile eXperience (MX) Samsung telah meminta para mitranya untuk mengurangi volume pasokan produk antara 20 hingga 30 persen. Akibatnya, produksi smartphone Samsung pada kuartal keempat 2026 diperkirakan akan turun hingga 30 persen, yang lebih dalam dibandingkan proyeksi pasar sebelumnya.
Lembaga riset pasar IDC sebelumnya memperkirakan bahwa produksi smartphone Samsung akan mencapai 59 juta unit pada kuartal ketiga 2026 dan 52 juta unit pada kuartal keempat 2026. Dalam analisis IDC, penurunan produksi pada kuartal keempat tersebut hanya sekitar 12 persen dibandingkan kuartal ketiga. Sebagai perbandingan, IDC mencatat pengiriman smartphone Samsung pada kuartal pertama dan kedua 2026 masing-masing sebanyak 62,4 juta unit dan 62,7 juta unit.
Target produksi tahunan Samsung juga mengalami penyesuaian. Sebelumnya, perusahaan ini diperkirakan akan memproduksi hingga 270 juta smartphone sepanjang tahun 2026, didorong oleh kesuksesan ponsel lipat Galaxy Z Fold8. Namun, kini total produksi diperkirakan hanya akan berada di kisaran awal 200 juta unit. Penurunan produksi smartphone Samsung biasanya terjadi setiap kuartal keempat, karena banyak konsumen yang memilih menunggu peluncuran ponsel baru yang rutin dilakukan pada bulan Januari hingga Februari.
Tekanan dalam bisnis smartphone juga terlihat dari proyeksi kinerja divisi MX. Salah satu perusahaan sekuritas di Korea Selatan memperkirakan bahwa divisi tersebut akan mengalami kerugian operasional mencapai 19 triliun won (sekitar Rp 252 triliun) pada kuartal ketiga 2026, yang mencakup periode Juli hingga September.