Pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk fokus pada pengembangan desain chip sebagai langkah strategis awal dalam memasuki industri semikonduktor global. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya permintaan chip di seluruh dunia serta terbatasnya kapasitas fabrikasi wafer di dalam negeri.
Pentingnya Desain Chip dalam Industri Semikonduktor
Semikonduktor, atau chip, kini menjadi komponen vital bagi berbagai sektor industri, termasuk otomotif, telekomunikasi, energi, dirgantara, dan kecerdasan buatan (AI). Ketergantungan yang tinggi terhadap komponen ini menjadikan kemampuan untuk mengembangkan teknologi semikonduktor sebagai salah satu faktor penentu daya saing industri suatu negara. Meskipun demikian, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam membangun industri semikonduktor secara mandiri, terutama terkait dengan kapasitas fabrikasi wafer yang belum tersedia. Oleh karena itu, pemerintah memilih untuk memulai dengan desain chip yang dianggap lebih realistis untuk dikembangkan pada tahap awal.
Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kolaborasi Internasional
Mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) sebelumnya telah menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor semikonduktor, yang menjadi sinyal penting untuk pengembangan ekosistem industri semikonduktor nasional. AGK menyatakan bahwa pengembangan industri ini perlu dilakukan melalui langkah-langkah konkret dan bertahap, dengan fokus pada penyiapan sumber daya manusia yang kompeten dalam teknologi desain chip. "Fokus awal kami adalah menyiapkan SDM yang mampu mendesain chip," ujar AGK.
Desain chip dipilih karena merupakan segmen yang memiliki nilai tambah tinggi dan bergantung pada kemampuan sumber daya manusia. Dengan pendekatan ini, diharapkan Indonesia dapat membangun kompetensi teknologi sebelum beralih ke tahapan industri yang lebih kompleks. Pemerintah telah merancang peta jalan semikonduktor yang mencakup empat pilar: material, desain, fabrikasi, serta perakitan, pengujian, dan pengemasan. Pengembangan desain chip dan talenta ditempatkan sebagai penggerak utama di tahap awal.
AGK menekankan bahwa pembangunan industri semikonduktor tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan memerlukan konsistensi dan kesinambungan. Salah satu langkah untuk meningkatkan kemampuan desain chip di Indonesia adalah melalui pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) pada tahun 2023. ICDEC didirikan oleh Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) dan pakar desain chip dari 13 perguruan tinggi di Indonesia. Organisasi nirlaba ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra global.
Saat ini, ICDEC telah menjalin kemitraan dengan 16 perguruan tinggi dan tujuh pelaku industri, dengan tujuan untuk menyiapkan talenta desain chip yang dapat berkontribusi dalam rantai pasok semikonduktor global. Pada Januari 2026, AGK meresmikan fasilitas ICDEC di ITB Innovation Park, Bandung, bersamaan dengan penyelenggaraan Indonesia Semiconductor Summit 2026. Tiga bulan setelahnya, ICDEC menandatangani kerja sama dan surat minat pengembangan sumber daya manusia dengan Intel, National Taiwan Normal University, dan President University. Upaya peningkatan talenta juga dilakukan melalui pelatihan desain chip bersama Polytron, IMEC Belgia, dan Cadence yang dimulai pada Oktober 2024 di Kudus. Selain itu, Kementerian Perindustrian juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Apple untuk komitmen riset dan pengembangan di Indonesia melalui ICDEC.