Sun. Oct 17th, 2021

Pertumbuhan Investasi Tahun Ini Stagnan

Porosberita.com, Jakarta –  Pertumbuhan investasi Indonesia hingga akhir tahun ini nyaris stagnan. Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan investasi akan berada pada kisaran 5 persen hingga 6 persen. Angka tersebut hampir sama dengan realisasi tahun lalu 6,01 persen.

Adaoun investasi yang dimaksud ialah Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) yang merupakan komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo dunia usaha memang tidak terlalu ekspansif pada kuartal I dan II tahun ini. Sebab, pelaku usaha masih mencermati tindak-tanduk perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Sementara, investor bersikap menunggu (wait and see) menjelang masa-masa pemilihan umum.

“Kemarin memang sebagian korporasi kena dampak perang dagang dan masih bersifat wait and see, dan kami akan melihat penguatan pada kuartal III dan IV. Kami ramal, investasi total yang menjadi komponen PDB tahun ini bisa tumbuh 5 hingga 6 persen,” papar Perry, Jumat (19/7/2019).

Sementara, dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), di mana realisasi investasi kuartal I hanya tumbuh 5,3 persen secara tahunan dari Rp185,3 triliun menjadi Rp195,1 triliun. Artinya, angka pertumbuhan itu melambat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 11,8 persen.

Meski begitu, Perry menilai ekspektasi dunia usaha terhadap perekonomian kuartal III masih optimistis sesuai dengan Survei Kegiatan Dunia Usaha yang dirilis bulan lalu. Makanya, perkembangan semester II diharapkan bisa membalikkan arah dari hal yang terjadi pada semester lalu.

Lebih lanjut Perry mengatakan dorongan investasi di semester ini juga disebabkan oleh dua faktor lainnya.

Pertama, Presiden Jokowi telah memberikan kepastian mengenai keinginan pemerintah mendorong investasi. Dalam pidato yang disampaikan Minggu (14/7/2019) lalu, Jokowi memberi sinyal bahwa pemerintah siap memberi kemudahan birokrasi dan insentif yang dibutuhkan dunia usaha.

Kedua adalah implementasi beberapa pelonggaran kebijakan moneter yang sudah dilaksanakan oleh BI. Sebagai contoh, BI sudah menerapkan penurunan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 basis poin sehingga bisa menambah likuiditas bagi perbankan.

Selain itu, BI juga telah menaikkan Rasio Intermediasi Perbankan (RIM) dari 80 persen hingga 92 persen menjadi 84 hingga 94 persen sehingga perbankan memiliki ruang likuiditas lebih untuk menyalurkan kredit.

Bahkan, BI juga telah menurunkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 25 basis poin sehingga bisa mendorong bunga kredit usaha yang lebih murah. (nto)