🔴 Breaking
Penerapan Batas Migrasi BPA Diharapkan Ditunda Hingga 2031 Jelajahi 10 Rute Penerbangan Terpanjang di Dunia Kenaikan Permintaan Listrik di Era Kecerdasan Buatan, Indonesia Butuh Jaringan Listrik yang Lebih Canggih BMKG: 17 Provinsi Mengalami Hari Tanpa Hujan yang Ekstrem, Yogyakarta Terlama 141 Hari Peningkatan Anggaran Kemendikdasmen 2027 Sebesar Rp28 Triliun Dampak Krisis Energi di Eropa: Konsumen Terpaksa Bayar Lebih untuk Perjalanan BGN Menghentikan Secara Permanen Operasional Empat SPPG Sesi Berbagi di UIN Saizu, Ahli Filsafat Islam Bahas Tiga Aspek Kemajuan Iran Danantara Siapkan Pembentukan BUMN di Sektor Tekstil, Kadin Daerah Siaga Menyambut Kesempatan Aksi Buruh 24 September di Jakarta: Konvoi dari Semanggi, Audiensi dengan KSP Bahas RUU Ketenagakerjaan Penerapan Batas Migrasi BPA Diharapkan Ditunda Hingga 2031 Jelajahi 10 Rute Penerbangan Terpanjang di Dunia Kenaikan Permintaan Listrik di Era Kecerdasan Buatan, Indonesia Butuh Jaringan Listrik yang Lebih Canggih BMKG: 17 Provinsi Mengalami Hari Tanpa Hujan yang Ekstrem, Yogyakarta Terlama 141 Hari Peningkatan Anggaran Kemendikdasmen 2027 Sebesar Rp28 Triliun Dampak Krisis Energi di Eropa: Konsumen Terpaksa Bayar Lebih untuk Perjalanan BGN Menghentikan Secara Permanen Operasional Empat SPPG Sesi Berbagi di UIN Saizu, Ahli Filsafat Islam Bahas Tiga Aspek Kemajuan Iran Danantara Siapkan Pembentukan BUMN di Sektor Tekstil, Kadin Daerah Siaga Menyambut Kesempatan Aksi Buruh 24 September di Jakarta: Konvoi dari Semanggi, Audiensi dengan KSP Bahas RUU Ketenagakerjaan
Nasional

BNPB Minta Keselarasan Data dalam Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendesak semua pihak terkait untuk menyamakan data dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan agar lebih efektif dan terintegrasi.

Fehardian Rahaja

Penulis

24 September 2026
9 kali dibaca
Kepala BNPB, Suharyanto. (bidik layar video)
Kepala BNPB, Suharyanto. (bidik layar video)

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memimpin rapat koordinasi mengenai penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan pada Rabu, 23 September. Dalam pertemuan tersebut, BNPB meminta semua pihak untuk menyelaraskan data terkait luas lahan, jumlah personel, dan titik kebakaran melalui sistem pelaporan yang terintegrasi.

BNPB mencatat bahwa dari total 125,31 hektare lahan yang terbakar, sebanyak 62,15 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan sisa lahan masih dalam proses penanganan. Suharyanto menekankan pentingnya keseragaman data untuk memantau kondisi di lapangan secara menyeluruh. Ia menyatakan bahwa perbedaan data masih terlihat dalam laporan dari berbagai pihak yang terlibat.

Pentingnya Integrasi Data

Dalam pernyataannya, Suharyanto mengungkapkan, “Jangan sampai upaya yang luar biasa di bawah ini tidak tersampaikan. Setiap ada hal-hal yang kurang, kita langsung melaksanakan komunikasi.” Ia menambahkan bahwa data yang perlu disinkronkan tidak hanya mencakup titik kebakaran, tetapi juga informasi mengenai luas lahan yang terbakar, hasil pemadaman, jumlah personel, dan kebutuhan dukungan di lapangan.

Keselarasan data ini dianggap krusial untuk menentukan prioritas penanganan karhutla di setiap wilayah. Dengan adanya data yang sama, semua pihak yang terlibat dapat mengetahui jumlah hotspot, titik kebakaran yang nyata, luas lahan yang terdampak, serta kebutuhan kekuatan pemadaman di masing-masing kabupaten. Data tersebut juga akan menjadi acuan dalam penempatan sumber daya agar lebih tepat sasaran.

Koordinasi yang Diperlukan

Selain pemerintah daerah, penanganan karhutla di Kalimantan Selatan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat. BNPB menilai bahwa koordinasi antara semua unsur tersebut harus terus diperkuat agar upaya pemadaman yang dilakukan di lapangan dapat dicatat dan dilaporkan secara utuh.

Berdasarkan data yang dihimpun BNPB per Selasa (22/9), total target penanganan karhutla di Kalimantan Selatan adalah 125,31 hektare. Dari jumlah tersebut, 62,15 hektare lahan terbakar telah berhasil dipadamkan, sementara 63,16 hektare lainnya masih dalam penanganan. BNPB meminta semua unsur untuk terus memperkuat penanganan dalam waktu dekat, mengingat potensi karhutla masih perlu diantisipasi hingga musim hujan yang diperkirakan akan tiba pada Dasarian I November. Penguatan koordinasi dan integrasi data diharapkan dapat membantu menjaga penanganan karhutla tetap terkontrol dan mencegah munculnya titik kebakaran baru.

Artikel Terkait