Jakarta - Paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar masalah kesehatan saluran pernapasan pada anak. Dalam jangka panjang, efek tersebut dapat menjangkau kinerja otak dan kesehatan mental anak. Dr. Fifi Sofiah, SpA, SubspRespi(K) dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa paparan asap karhutla dapat menyebabkan gangguan respirasi yang bersifat permanen.
Anak-anak yang terpapar asap karhutla secara terus-menerus memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit paru obstruktif kronis di kemudian hari. Selain itu, paparan yang berkepanjangan juga dapat mengganggu sistem kardiovaskular. "Ke depannya karena partikel bahan kimia dan sebagainya, bisa meningkatkan risiko penyakit kanker paru," ungkap dr. Fifi dalam acara temu media IDAI.
Dampak Terhadap Kecerdasan Anak
Dr. Fifi juga menekankan bahwa efek dari paparan asap karhutla tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi kecerdasan anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan tersebut dapat menurunkan kualitas intelegensia anak. "Artinya ke depannya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan akhirnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan menjadi rendah pada saat dewasa," tambahnya.
Risiko Kesehatan Mental
Selain dampak fisik, dr. Fifi juga menggarisbawahi potensi masalah kesehatan mental akibat paparan asap karhutla dalam jangka panjang. Hal ini terkait dengan trauma yang dapat berujung pada kondisi post-traumatic stress disorder (PTSD). "Ini adalah kondisi-kondisi yang harus kita antisipasi agar nanti dampak ke depannya, jangka panjang pada anak-anak itu tidak terjadi," tegasnya.
Dengan demikian, penting untuk memahami dan mengatasi dampak dari kebakaran hutan dan lahan, tidak hanya untuk kesehatan fisik tetapi juga untuk perkembangan mental dan kecerdasan anak.