🔴 Breaking
Kesehatan

Dampak Kabut Asap Karhutla Terhadap Kesehatan Paru-paru Anak

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan akan bahaya kebakaran hutan dan lahan bagi kesehatan anak, yang lebih rentan terhadap paparan asap berbahaya.

Chandra Kirana

Penulis

19 October 2026
4 kali dibaca
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI

Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pentingnya perlindungan anak-anak dari efek negatif kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Anak-anak memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap asap karena sistem pernapasan dan kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Fifi Sofiah, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa asap yang dihasilkan dari karhutla mengandung berbagai zat berbahaya yang lebih kompleks dari yang biasanya dipahami oleh masyarakat. "Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar 'asap biasa'. Ia mengandung partikel padat, gas, dan cairan hasil pembakaran tidak sempurna-mulai dari hidrogen sulfida, sulfur, karbon dioksida, polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), asam, hingga logam berat seperti silika, tembaga, kadmium, timbal, bromium, zink, dan kalium," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin (19/10/2026).

Bahaya Partikel PM2.5

Menurut dr Fifi, salah satu komponen yang harus diwaspadai adalah partikel PM2.5 yang berukuran kurang dari 2,5 mikron. Ukuran kecil partikel ini memungkinkan mereka untuk menembus bagian terdalam paru-paru, yaitu alveoli, dan bahkan berpotensi masuk ke dalam aliran darah. Ia menambahkan bahwa organ pernapasan anak merupakan salah satu bagian tubuh yang paling rentan terdampak karena masih dalam proses perkembangan secara anatomis dan fisiologis. Partikel PM10 dapat mengiritasi saluran pernapasan atas, sementara PM2.5 dapat menembus lebih dalam dan menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan bawah.

Selain itu, aldehida yang terdapat dalam asap dapat mengganggu fungsi silia atau rambut halus di saluran pernapasan yang berperan dalam mengeluarkan partikel asing. Karbon monoksida juga dapat mengganggu kemampuan darah dalam mengangkut oksigen. Paparan terhadap polutan ini berpotensi menyebabkan kerusakan sel.

Dalam jangka panjang, paparan asap dari karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan kronis dan memengaruhi kualitas hidup anak hingga mereka dewasa. Anak-anak lebih rentan terhadap polusi udara tidak hanya karena sistem kekebalan tubuh mereka yang masih berkembang, tetapi juga karena diameter saluran pernapasan yang lebih kecil serta frekuensi napas yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Kebutuhan ventilasi udara per kilogram berat badan anak juga lebih besar, sehingga dalam kondisi udara tercemar, mereka dapat menerima paparan polutan yang lebih besar dibandingkan orang dewasa di lingkungan yang sama.

Langkah Mitigasi untuk Keluarga

Sekretaris Satgas Siaga Bencana IDAI, dr Dimas Dwi Saputro, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan beberapa langkah mitigasi yang dapat diambil oleh keluarga untuk mengurangi risiko paparan asap karhutla. Langkah-langkah tersebut meliputi mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela saat kualitas udara luar buruk, menggunakan masker yang sesuai jika harus keluar rumah, mencukupi kebutuhan cairan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi.

Keluarga juga dianjurkan untuk menyiapkan tas siaga bencana dan memahami jalur evakuasi, titik kumpul, serta rencana kesiapsiagaan. IDAI menekankan pentingnya memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebagai salah satu dasar untuk menentukan langkah-langkah perlindungan. Rekomendasi ini mempertimbangkan kelompok usia, mulai dari neonatus (0-28 hari), bayi (28 hari-12 bulan), balita (12-60 bulan), anak (5-12 tahun), hingga remaja (12-18 tahun).

Ketika ISPU berada pada angka 0-50 (baik) hingga 51-100 (sedang), kelompok rentan dianjurkan untuk mengurangi paparan asap. Apabila ISPU mencapai 101-199 (tidak sehat) hingga 200-299 (sangat tidak sehat), IDAI merekomendasikan pertimbangan untuk evakuasi ke tempat dengan udara bersih atau lokasi aman berdasarkan indikasi medis, terutama bagi neonatus, bayi, dan balita yang memiliki penyakit penyerta. Pemberian obat esensial dan suplementasi oksigen harus dilakukan sesuai dengan indikasi medis. Pada ISPU di atas 300 (berbahaya), evakuasi dianjurkan untuk seluruh kelompok.

Artikel Terkait